Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesepakatan perdagangan timbal balik antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia menuai kritik. Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai kesepakatan tersebut sangat timpang dan justru menempatkan Indonesia pada posisi yang merugikan di banyak aspek.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyayangkan isi kesepakatan tersebut karena Indonesia dinilai kalah dalam segala aspek perundingan. Menurutnya, penetapan tarif resiprokal 19% tidak bisa langsung dianggap sebagai kemenangan bagi Indonesia karena sangat bergantung pada hambatan non-tarif.
"Salah satu kesepakatan yang jadi masalah adalah keharusan impor produk energi dari AS serta 98% lebih produk AS mendapatkan tarif nol persen ke Indonesia. Jadi sangat ketara 'ketimpangan' dagang yang disepakati. Indonesia hanya berpotensi mendapatkan nol tarif ke AS untuk beberapa produk holtikultura, salah satunya sawit," ujarnya kepada Kontan Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: Prabowo Angkat Dokter Eks Kopassus Sebagai Dirut BPJS Kesehatan 2026–2031
Huda mengungkapkan, industri nasional akan mendapatkan tekanan tambahan dari sisi ekspor yang bakal menekan kinerja industri. Sementara itu, perluasan pangsa pasar dinilai masih jalan di tempat.
Ia melihat hanya sektor perkebunan, khususnya sawit, yang diuntungkan karena ketergantungan AS pada produk tersebut.
Huda juga menyoroti aspek investasi mineral dan perdagangan digital. Menurutnya, tidak ada transfer pengetahuan dari AS meskipun pintu investasi dibuka lebar. Dalam hal perdagangan digital, terdapat klausul yang dianggap sangat merugikan posisi Indonesia karena membatasi kedaulatan pajak.
"Indonesia tidak dapat menerapkan bentuk pajak apapun kepada perusahaan teknologi AS. Selain itu, transfer data sangat dibebaskan ke AS dan jika Indonesia melakukan perundingan terkait dengan digital dengan negara lain harus 'berkomunikasi' dulu dengan pihak AS. Jadi Indonesia berada di ketiak AS dalam perjanjian terkait dengan digital trade ini," tegasnya.
Di samping itu, Huda menuturkan, Indonesia berpotensi susah mendiversifikasi ekonomi ke sektor berteknologi tinggi atau ramah lingkungan. Ia menyebut perundingan ini sebagai kekalahan telak lantaran kebijakan Indonesia kini bisa disetir oleh kepentingan AS.
"Terlebih ada klausul 'Musuh AS adalah Musuh Indonesia juga' yang bakal meruntuhkan politik bebas aktif Indonesia. Kita tidak boleh melakukan perjanjian dagang dengan negara lain tanpa seizin AS dahulu," pungkasnya.
Selanjutnya: 4 Destinasi Cantik untuk Menikmati Musim Bunga Sakura Selain Jepang
Menarik Dibaca: 4 Destinasi Cantik untuk Menikmati Musim Bunga Sakura Selain Jepang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)