kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.110   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.040   1,68   0,03%
  • KOMPAS100 789   0,53   0,07%
  • LQ45 599   -3,49   -0,58%
  • ISSI 210   2,97   1,43%
  • IDX30 339   -1,95   -0,57%
  • IDXHIDIV20 422   -0,99   -0,24%
  • IDX80 90   0,01   0,01%
  • IDXV30 116   1,09   0,96%
  • IDXQ30 109   -0,38   -0,35%

Kemlu: Brasil dan Belanda bukan tarik Dubes


Selasa, 20 Januari 2015 / 13:57 WIB
ILUSTRASI. Cara hapus tautan Threads dari akun Instagram.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan pemanggilan Duta Besar (Dubes) Brasil dan Belanda oleh negaranya masing-masing hanya untuk konsultasi, bukan penarikan.

Juru Bicara Kemlu RI, Arrmanata Christiawan Nasir (Tata) mengatakan dua kedutaan besar (Kedubes) negara tersebut masih ada di Jakarta.

"Saya tekankan lagi, bukan penarikan tapi pemanggilan dubes ke negaranya untuk konsultasi. Kemarin minggu mereka sudah mengirim surat ke kita soal pemanggilan itu. Kalau dibilang menarik itu memutus hubungan diplomatik. Tak ada seperti itu," kata Tata kepada wartawan di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (20/1).

Disinggung kemungkinan dua negara tersebut menarik dubesnya, Tata enggan berspekulasi. Menurutnya konsultasi adalah hal yang normal apabila diperlukan untuk memberikan keterangan atau komunikasi yang lebih intens dengan pemerintah.

"Menurut Kemlu itu hak pemerintah masing-masing untuk memanggil dubesnya kembali untuk konsultasi," tegasnya.

Pemerintah Indonesia sendiri kata Tata, merasa tak terganggu hubungan diplomatiknya, karena pemanggilan dua dubes tersebut. Indonesia tetap menganggap Brazil dan Belanda sebagai negara sahabat dan terus berkomunikasi walau dengan kondisi ini.

"Kami terus membuka jalur komunikasi dengan kedua negara tersebut, kami juga akan terus berupaya untuk membuka hubungan bilateral baik dengan Belanda dan Brazil," ujarnya.

Tata mengungkapkan saat ini belum ada rencana pertemuan antara Menlu RI, Retno Marsudi dengan kedua menlu negara tersebut. Sebab tidak mudah mengatur jadwal pertemuan antar menteri negara sahabat.

"Tidak gampang antar menteri bertemu face to face," tegasnya. (Edwin Firdaus)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×