CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

Kelangkaan BBM Dikhawatirkan Bisa Mengancam Pergerakan Ekonomi Daerah


Minggu, 13 September 2026 / 17:25 WIB
Kelangkaan BBM Dikhawatirkan Bisa Mengancam Pergerakan Ekonomi Daerah
ILUSTRASI. Antrian di SPBU Pertamina (Kontan/Diki Mardiansyah/NULL)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU belakangan ini dinilai dapat mengancam pertumbuhan ekonomi daerah.

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi menjelaskan, antrean panjang pembelian BBM yang terjadi di berbagai daerah bukan hanya melanggar hak masyarakat untuk mendapatkan BBM, melainkan juga mengancam pertumbuhan ekonomi di daerah.

Pasalnya, ia menilai BBM merupakan sarana vital untuk penggerak roda ekonomi, di suatu daerah dan nasional. "Oleh sebab itu pasokan yang stabil dan berkesinambungan menjadi prasyarat utama," jelasnya kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).

Baca Juga: KTT BRICS, Prabowo: RI Tak Lagi Hanya Impor Pangan, Kini Jadi Eksportir

Untuk itu, FKBI mengimbau Pertamina dan Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk transparan mengenai stok BBM yang ada saat ini, khususnya untuk BBM subsidi.

"Patut diduga, timbulnya antrian panjang sampai berjam-jam,  akibat pasokan BBM-nya mengalami defisit," imbuh Tulus.

Ia menegaskan bahwa pemerintah dan Pertamina juga perlu melakukan langkah mitigas agar selisih harga antara BBM non-subsidi seperti Pertamax Series dengan BBM subsidi tidak memiliki disparitas yang terlalu jauh.

"Sebab disparitas yang besar inilah yang diduga kuat menjadi pemicu utama antrian panjang," kata Tulus.

Senada, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Niti Emiliana menyoroti, antrean mengular di sejumlah SPBU terjadi karena adanya pergeseran konsumsi BBM masyarakat karena selisih harga yang terlalu jomplang. 

"Permasalahan lainnya juga, kerap kali konsumen mendapatkan informasi yang simpang siur sehingga terjadi kebingungan di masyarakat," jelas Niti kepada Kontan, dihubungi terpisah, Minggu (13/9/2026).

Dalam arti, ia menilai pemerintah dan Pertamina berulang kali menyatakan stok BBM nasional aman, tetapi definisi ketersediaan BBM dari perspektif konsumen berbeda dengan keamanan pasokan secara nasional.

Baca Juga: Prabowo: BRICS Punya Kekuatan Mineral Kritis dan Sumber Energi Dunia

"Akan menjadi masalah jika konsumen tidak bisa mendapatkan BBM di SPBU meskipun stok BBM nasional aman, sehingga konsumen mempertanyakan ketersediaan BBM tersebut," tegas Niti.

Selain panjangnya antrean, hal ini kata Niti akhirnya juga berdampak pada operasional angkutan umum yang terhambat, sehingga bisa menghambat pergerakan ekonomi masyarakat.

"Pemerintah dan Pertamina perlu memperhatikan proses distribusi yg sesuai, memastikan ketersediaan BBM dari hulu hingga hilir, serta tentunya perlu evaluasi agar kejadian ini tak terjadi berulang," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×