kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Kekeringan berpotensi menurunkan produksi pangan


Selasa, 30 Juli 2019 / 14:47 WIB


Reporter: | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekeringan berpotensi menurunkan produksi tanaman pangan di Indonesia. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) daerah rawan dengan hari tanpa hujan (HTH) tinggi terletak di bawah garis equator. 

Hal itu meliputi wilayah bagian selatan Sumatera dan pulau Jawa yang merupakan produsen tanaman pangan.

Baca Juga: Pemerintah siapkan antisipasi kekeringan yang mulai melanda pertengahan tahun ini

"Banyak sentra produksi pangan di Sumatera Selatan dan Jawa termasuk Pantai Utara (Pantura)," ujar Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan saat konferensi pers, Selasa (30/7).

Melihat itu, Dodo bilang ada potensi penurunan produksi bahan pangan. Oleh karena itu perlu antisipasi juga oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait lainnya.

Salah satu antisipasi yang bisa dilakukan sebelumnya adalah pembuatan embung. Embung yang menampung air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber irigasi.

Baca Juga: BMKG mencatat gempa magnitudo 5 di laut Kodi Sumbawa, Senin petang (29/7)

"Embung yang membuat air ditampung bisa dimanfaatkan," terang Dodo.

Meski begitu, tidak seluruh komoditas pangan akan lesu pada kemarau yang panas kali ini. Salah satu produksi yang diuntungkan adalah garam yang memanfaatkan panas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×