kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Kadin proyeksikan PMI manufaktur Indonesia sulit tembus angka 50,0 di kuartal III


Senin, 03 Agustus 2020 / 20:23 WIB
ILUSTRASI. Pameran Manufaktur: Suasana Pameran Manufacturing Indonesia 2019 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (4/12). Pameran yang digelar dari 4 Desember 2019 - 7 Desember 2019 ini diikuti oleh 1.500 peserta dari 39 negara seperti Jepang, Amerika Serikat, B


Reporter: Venny Suryanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Berdasarkan data dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari IHS Markit, indeks manufaktur Indonesia berada di level 46,9 pada bulan Juli 2020.

Indeks yang tercatat pada Juli 2020 ini naik 7,8 poin dari indeks pada bulan Juni 2020 yang berada di level 39,1. Meski meningkat dari bulan sebelumnya, namun angka tersebut masih di bawah level ekspansif yakni 50,0.

IHS Markit menyebut, industri manufaktur yang belum ekspansi itu terjadi karena produsen barang di Indonesia masih mengalami dampak dari pandemi Covid-19.

Baca Juga: Perlahan naik, Menperin yakin indeks manufaktur Indonesia bisa ke level 50

Sehingga, perusahaan enggan berinvestasi untuk kapasitas baru, dengan keadaan lapangan kerja yang semakin menurun dan aktivitas pembelian berkurang.

Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani kinerja manufaktur Indonesia pada kuartal III 2020 apabila dilihat dari pelonggaran pembatasan sosial skala besar (PSBB) tentu aktifitasnya sudah meningkat meski tak terlalu tinggi.

Baca Juga: Kemenperin: Aktivitas industri manufaktur meningkat pada Juli di level 46,9 poin

“Meski meningkat, tapi kalau dibandingkan sebelum Maret kemarin itu masih jauh lebih rendah. Sehingga masih banyak pelaku usaha yang masih menanggung kerugian meski lebih sedikit setelah kembali beraktifitas dibanding ketika PSBB masih ketat,” ujar Shinta kepada KONTAN, Senin (3/8).




TERBARU

[X]
×