Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-MAKASSAR. Bank Indonesia (BI) terus memperluas kerja sama local currency transaction (LCT) dengan berbagai negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap valuta asing dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan dan keuangan.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama mengatakan, penguatan kerja sama LCT menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya dominasi dolar AS dalam sistem transaksi internasional.
Menurut Ruth, banyak negara kini mulai menyadari pentingnya memperkuat transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal dibanding harus selalu melalui dolar AS.
“Semua negara akhirnya sadar bahwa kadang-kadang tetangga sebelah kita itu adalah orang yang paling dekat yang bisa bantu kita,” ujar Ruth dalam media briefing di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: BI: Dominasi Transaksi Valas di Pasar Spot Bikin Rupiah Rentan Goyah
Ia mengatakan, Indonesia termasuk negara yang cukup gigih memperjuangkan implementasi LCT dan kini semakin mendapat respons positif dari negara-negara mitra.
“Sekarang diakui oleh negara-negara ini. Kita bisa lihat volumenya naik tajam,” katanya.
Ruth menegaskan, pengembangan LCT bukan untuk menghindari penggunaan dolar AS sepenuhnya. Sebab, dolar masih menjadi mata uang utama dunia. Namun, untuk transaksi bilateral yang dilakukan langsung antarnegara, penggunaan mata uang lokal dinilai lebih efisien dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
“Kalau bisa langsung domestik, kenapa harus pakai dolar dulu. Karena kalau muter, sudah pasti ada middleman dan tidak efisien,” ujarnya.
Menurut Ruth, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan juga dapat mendorong diversifikasi eksposur mata uang, meningkatkan efisiensi biaya transaksi, sekaligus memperdalam pasar keuangan regional.
BI mencatat tren penggunaan LCT terus meningkat, baik dari sisi volume transaksi maupun jumlah pelaku. Kenaikan terbesar tercatat pada transaksi dengan China.
“Volume LCT ini naik tajam. Mudah-mudahan baik volume maupun pelakunya terus meningkat,” imbuhnya.
Saat ini implementasi LCT Indonesia telah berjalan dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura. Adapun kerja sama dengan India dan Arab Saudi masih dalam tahap pengembangan dan implementasi.
Ruth menilai, kerja sama langsung dengan Arab Saudi menjadi penting karena tingginya kebutuhan transaksi masyarakat Indonesia terhadap mata uang riyal Saudi, termasuk untuk kebutuhan haji dan umrah.
Baca Juga: Ramai Daftar Mobil 1.400 CC Dilarang Isi Pertalite per 1 Juni 2026, Ini Faktanya
“Kita tahu ada permintaan Saudi Arabian Riyal yang besar. Dengan LCT ini kalau bisa tanpa dollar, itu yang sedang kita usahakan,” katanya.
Dalam skema LCT, transaksi dilakukan langsung menggunakan mata uang lokal tanpa melalui dolar AS sebagai mata uang perantara. Dengan demikian, pelaku usaha dapat menghindari biaya konversi ganda yang selama ini muncul apabila transaksi harus melalui dolar terlebih dahulu.
“Kalau cross rate itu biasanya IDR ke US dollar dulu baru ke mata uang negara tujuan. Itu pasti kena dua kali rate,” jelas Ruth.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













