kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Jokowi minta Kadin dampingi 2 juta petani swadaya


Rabu, 18 November 2020 / 13:36 WIB
Jokowi minta Kadin dampingi 2 juta petani swadaya
ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato di KTT ASEAN melalui video conference dari Istana Bogor, Kamis (12/11/2020).


Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) melakukan pendampingan kepada petani swadaya.

Tidak tanggung-tanggung, Jokowi memasang target 2 juta petani yang akan didampingi oleh Kadin. Angka tersebut diharapkan terpenuhi hingga tahun 2023 mendatang

"Saya menunggu komitmen pendampingan 2 juta petani swadaya pada tahun 2023. Saya yakin kadin mampu mencapai target ini," ujar Jokowi saat memberikan sambutan di Jakarta Food Security Summit ke-5 tahun 2020 melalui tayangan video, Rabu (18/11).

Jokowi bilang pengembangan sektor pangan perlu menjadi perhatian ke depan. Terutama dalam inovasi terkait dengan kemitraan antara petani dengan korporasi.

Baca Juga: Menko Luhut bertemu Donald Trump, ini yang dibahas

Hal itu akan mendorong produksi yang semakin besar ke depan. Tidak hanya itu, korporasi petani juga diungkapkan Jokowi juga harus mengedepankan peningkatan nilai tambah baik di sektor on-farm mau pun off-farm.

"Saya sangat berharap model bisnis yang kolaboratif inklusif ini bisa mendongkrak sektor pangan sebagai kekuatan ekonomi baru yang membuka lebih banyak lapangan kerja dan menjadi sumber kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia," terang Jokowi.

Asal tahu saja, ke depan sektor pangan memang menjadi perhatian khusus. Salah satunya adalah mengingat adanya kemungkinan krisis pangan akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Selain itu, kebutuhan pangan juga akan terus meningkat ke depan. Hal itu seiring dengan melonjaknya pertumbuhan penduduk di dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×