kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45872,45   -13,73   -1.55%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Jokowi: Kenaikan Harga Beras Bukan Karena Bansos


Kamis, 15 Februari 2024 / 14:33 WIB
Jokowi: Kenaikan Harga Beras Bukan Karena Bansos
Presiden Joko Widodo meninjau Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Kamis (15/2/2024).


Reporter: Leni Wandira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, kenaikan harga beras tidak dipengaruhi gelontoran bantuan pangan beras. 

Justru sebaliknya, kata dia, dengan adanya bantuan pangan beras akan mengendalikan harga beras agar tidak melambung tinggi di pasaran.

"Tidak ada hubungannya sama sekali dengan bantuan pangan beras. Karena justru ini yang bisa mengendalikan. Suplainya lewat bantuan tersebut ke masyarakat. Justru itu menahan harga agar tidak naik, kalau tidak, justru melompat. Ini hukum supply demand," ungkap Jokowi dalam keterangan resminya, Kamis (15/2).

Ia juga memastikan ketercukupan stok perberasan nasional saat ini. Hal itu dipastikan dengan turun langsung meninjau ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Kamis (15/2/2024). 

"Saya datang di Pasar Induk Beras Cipinang ini untuk memastikan bahwa stok di sini ada karena dari sinilah di distribusikan ke ritel-ritel, terdistribusi ke pasar-pasar tradisional, terdistribusi ke toko-toko, ke daerah juga, sehingga saya pastikan beras yang ada di sini ada tersedia, jumlahnya cukup," kata Jokowi.

Baca Juga: Jokowi Minta Suplai Beras ke Pasar Terus Dilakukan

Jokowi meminta Bulog menyuplai beras untuk memenuhi pasar terus dilakukan. Dia optimistis suplai yang akan meningkat seiring dengan tibanya panen raya mendatang akan mengoreksi permintaan dan harga beras di pasaran.

"Pokoknya pasar minta berapa pun, beri, daerah minta berapa pun, beri, baik yang beras SPHP maupun beras komersial," tegasnya.  

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan, program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan terus diakselerasi. 

Arief memastikan distribusi beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat dapat kembali normal di pasar-pasar.

“Mengenai SPHP, Bapak Presiden sudah memerintahkan Badan Pangan Nasional bersama Bulog tentunya, untuk menggelontorkan beras total 250 ribu ton," ungkap Arief dalam kesempatan yang sama.

Arief bilang, biasanya dalam sebulan itu dianggarkan sekitar 80.000 ton sampai 100.000 ton, tapi Presiden Jokowi memerintahkan menjadi 250.000 ton.

“SPHP ini memang sangat diperlukan untuk masyarakat yang tidak mendapatkan bantuan pangan beras ya," ujar dia.

Kata dia, pemerintah ingin masyarakat dapat kembali mudah menjumpai beras Bulog di modern market dan pasar tradisional. Dalam waktu seminggu ini, Bapanas akan terus penuhi market. 

Adapun target penyaluran SPHP di tahun ini 1,2 juta ton. Sedangkan hingga 12 Februari, secara keseluruhan total salur beras SPHP telah mencapai 3.657 ton. 

Kantor Wilayah (Kanwil) dengan penyaluran tertinggi antara lain DKI Jakarta & Banten 2.009 ton, Jawa Timur 637 ton, dan Jawa Tengah 192 ton.

Lebih lanjut, program penyaluran beras Bulog ke PIBC telah terlaksana sejak 2023 dan kembali berlanjut di 2024 ini. Tren harga beras medium (IR 64 III) di PIBC pun terkendali dengan baik. 

Per 13 Februari, harga beras medium (IR 64 III) di PIBC adalah Rp10.654 per kilogram (kg) dengan stok beras total mencapai 33.700 ton. Stok beras di PIBC saat ini berada di atas rerata normal dengan target stok minimal di 30.000 ton.

“Program intervensi lainnya yang pemerintah lakukan demi stabilisasi beras adalah bantuan pangan beras 10 kg kepada 22 juta keluarga. Ini memang sangat diperlukan oleh masyarakat kita dan sedikit banyak mampu menarik demand terhadap beras di pasar," ujarnya.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok Masih Mendaki, Belanja Masyarakat Menurun pada Awal 2024

Pasca hari pemungutan suara Pemilu lalu, bantuan pangan beras dilanjutkan kembali dan ada pula program GPM (Gerakan Pangan Murah) di berbagai daerah.

Realisasi bantuan pangan beras sebelum di setop sementara sampai 7 Februari lalu, telah menyentuh 185.000 ton. Target penyaluran pada dua bulan pertama di 2024 adalah 440.000 ton. 

Untuk GPM, selama Januari 2024 telah terlaksana sebanyak 429 kali yang tersebar luas di 85 kabupaten kota. Sementara GPM di Februari ini ditargetkan terlaksana sebanyak 234 kali di 65 kabupaten kota dan dapat terus bertambah sesuai kolaborasi antara Bapanas dengan pemerintah daerah.

“Perlu saya jelaskan kembali bahwa untuk Januari dan Februari ini, memang antara produksi dan konsumsi beras kita ini tidak seimbang, sehingga kalau hari ini harga beras itu tinggi, memang disebabkan harga gabahnya masih tinggi. Namun sisi positifnya sedulur petani kita hari ini senang dan kita harapkan makin bersemangat tanam padi,” kata Arief.

Baca Juga: Erick Thohir: Harga Beras Melambung karena Harga Beras Dunia Juga Naik

Lebih lanjut, Arief memastikan ketersediaan stok beras nasional cukup. Sebab, pemerintah sudah melakukan tugasnya untuk menyeimbangkan antara hulu sampai hilir. 

"Nanti saat produksi beras kita berada di 3,5 juta ton atau melebihi itu pada maret, harga beras bisa akan lebih baik. Akan tetapi harga beras sekarang agak sulit menyamai seperti 2 tahun lalu. Ini karena biaya-biaya seperti pupuk, sewa lahan, hari orang kerja, dan sebagainya telah mengalami kenaikan,” imbuh Arief.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×