kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Jokowi: Ke depan, peta jangan dari kertas lagi


Jumat, 19 September 2014 / 17:55 WIB
ILUSTRASI. PT Amman Mineral Industri, anak perusahaan dari PT Amman Mineral Internasional di Kabupaten Sumbawa Barat yang


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menyindir teknologi pemetaan lahan di Indonesia, yang dia anggap ketinggalan zaman. Pada pemerintahannya nanti, Jokowi ingin menerapkan one map policy.

Jokowi mengatakan, saat kampanye pilpres di daerah Kalimantan, dia mendapat informasi dari salah satu kepala daerah di sana soal tingginya sengketa lahan di wilayah itu.

"Di satu provinsi saja ada 157 sengketa lahan. Saya lihat itu terjadi karena kita tidak punya peta lahan yang sama. Oleh sebab itu, saya akan idekan one map policy, satu peta untuk seluruhnya," ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta, Jumat (19/9).

Jokowi antara lain menyinggung sengketa selama ini antara lahan tambang dan lahan perkebunan serta antara lahan perkebunan dan lahan milik rakyat.

"Maka dari itu, ke depan, peta jangan ada yang dari kertas lagi. Di peta cuma 2 milimeter, yang di lapangannya ternyata 2.000 hektar lagi," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, langkah terobosan itu akan berimbas besar pada optimalisasi pemanfaatan lahan di Indonesia. Jokowi tidak ingin produktivitas lahan terhalang persoalan sengketa semacam itu. (Fabian Januarius Kuwado)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×