CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Investasi di Indonesia Belum Berkualitas, Penyerapan Tenaga Kerja Melambat


Selasa, 21 Juli 2026 / 17:21 WIB
Investasi di Indonesia Belum Berkualitas, Penyerapan Tenaga Kerja Melambat
ILUSTRASI. Serapan pekerja kawasan industri di Indonesia (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat, Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) Indonesia masih bertahan di kisaran 22% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan efisiensi investasi belum optimal.

Meskipun investasi terus meningkat tetapi diikuti penyerapan tenaga kerja yang menurun dari 754.186 orang pada kuartal IV 2025, menjadi hanya 706.569 orang pada kuartal I 2026. Investasi yang cenderung mengarah pada sektor yang lebih padat modal (capital-intensive) dibandingkan padat karya menyerap sedikit tenaga kerja.

Selain itu, meski Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia turun menjadi 6,24 pada 2025 dari 6,50 pada 2024, ICOR di Indonesia dinilai masih tinggi. Ini menunjukkan tambahan modal biaya besar untuk menghasilkan pertumbuhan, sejalan dengan produktivitas tenaga kerja yang relatif tertinggal di kawasan.

Baca Juga: Purbaya Kantongi Daftar 40 Perusahaan yang Diduga Kurangi Pembayaran Pajak

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyebut, penurunan laju penyerapan tenaga kerja menunjukkan bahwa investasi yang masuk belum sepenuhnya berkualitas dari sisi penciptaan lapangan kerja.

Meskipun PMTB terhadap PDB tetap berada di kisaran 22% dan ICOR sedikit membaik pada 2025, investasi cenderung mengalir ke sektor yang lebih padat modal, berteknologi tinggi.

“Atau berorientasi pada hilirisasi sehingga tambahan output yang dihasilkan tidak diikuti peningkatan kesempatan kerja secara proporsional,” tutur Rizal kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).

Kondisi tersebut berdampak pada melambatnya penciptaan lapangan kerja formal, meningkatnya risiko pengangguran dan setengah menganggur, serta melemahnya daya beli masyarakat.

Rizal menyebut, dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi kontributor terbesar PDB Indonesia, sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata.

Maka itu,  kata Rizal, orientasi kebijakan investasi tidak cukup hanya mengejar besarnya realisasi investasi atau penurunan ICOR, tetapi juga harus diarahkan pada investasi yang lebih padat karya.

“Selain itu harus memperkuat keterkaitan dengan UMKM, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan menghasilkan nilai tambah domestik yang lebih besar agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih inklusif,” tandasnya.

Baca Juga: DJP Bisa Intip Rekening Orang Kaya, Purbaya: Yang Sudah Bayar Pajak Tenang Saja!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×