Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat, Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) Indonesia masih bertahan di kisaran 22% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan efisiensi investasi belum optimal.
Meskipun investasi terus meningkat tetapi diikuti penyerapan tenaga kerja yang menurun dari 754.186 orang pada kuartal IV 2025, menjadi hanya 706.569 orang pada kuartal I 2026. Investasi yang cenderung mengarah pada sektor yang lebih padat modal (capital-intensive) dibandingkan padat karya menyerap sedikit tenaga kerja.
Selain itu, meski Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia turun menjadi 6,24 pada 2025 dari 6,50 pada 2024, ICOR di Indonesia dinilai masih tinggi. Ini menunjukkan tambahan modal biaya besar untuk menghasilkan pertumbuhan, sejalan dengan produktivitas tenaga kerja yang relatif tertinggal di kawasan.
Baca Juga: Purbaya Kantongi Daftar 40 Perusahaan yang Diduga Kurangi Pembayaran Pajak
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyebut, penurunan laju penyerapan tenaga kerja menunjukkan bahwa investasi yang masuk belum sepenuhnya berkualitas dari sisi penciptaan lapangan kerja.
Meskipun PMTB terhadap PDB tetap berada di kisaran 22% dan ICOR sedikit membaik pada 2025, investasi cenderung mengalir ke sektor yang lebih padat modal, berteknologi tinggi.
“Atau berorientasi pada hilirisasi sehingga tambahan output yang dihasilkan tidak diikuti peningkatan kesempatan kerja secara proporsional,” tutur Rizal kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Kondisi tersebut berdampak pada melambatnya penciptaan lapangan kerja formal, meningkatnya risiko pengangguran dan setengah menganggur, serta melemahnya daya beli masyarakat.
Rizal menyebut, dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi kontributor terbesar PDB Indonesia, sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata.
Maka itu, kata Rizal, orientasi kebijakan investasi tidak cukup hanya mengejar besarnya realisasi investasi atau penurunan ICOR, tetapi juga harus diarahkan pada investasi yang lebih padat karya.
“Selain itu harus memperkuat keterkaitan dengan UMKM, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan menghasilkan nilai tambah domestik yang lebih besar agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih inklusif,” tandasnya.
Baca Juga: DJP Bisa Intip Rekening Orang Kaya, Purbaya: Yang Sudah Bayar Pajak Tenang Saja!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
