kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.258   36,00   0,21%
  • IDX 7.058   -48,64   -0,68%
  • KOMPAS100 955   -6,85   -0,71%
  • LQ45 682   -4,43   -0,65%
  • ISSI 255   -2,00   -0,78%
  • IDX30 378   -1,41   -0,37%
  • IDXHIDIV20 463   -2,11   -0,45%
  • IDX80 107   -0,72   -0,67%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,56%
  • IDXQ30 121   -0,55   -0,45%

Inilah Prediksi 1 Syawal Lebaran 2026 Menurut Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan BRIN


Kamis, 12 Maret 2026 / 02:00 WIB
Inilah Prediksi 1 Syawal Lebaran 2026 Menurut Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan BRIN
ILUSTRASI. Pemerintah akan gelar Sidang Isbat 19 Maret 2026 untuk tentukan Lebaran. (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

1 Syawal menurut NU

Hingga saat ini NU juga belum menetapkan secara pasti kapan Idul Fitri 2026 akan dirayakan.

Dilansir dari Kompas.com (20/3/2025), dalam tradisi NU, penentuan 1 Syawal dilakukan menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap kemunculan bulan sabit. Pengamatan tersebut biasanya dilaksanakan pada 29 Ramadhan di berbagai titik di Indonesia.

Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Namun, jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari sehingga Idul Fitri jatuh pada hari berikutnya.

Meski mengutamakan rukyatul hilal, NU juga tetap menggunakan perhitungan ilmu falak sebagai dasar pendukung dalam proses penentuan tersebut.

BRIN prediksi 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026

Sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (10/3/2026), perhitungan astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan kemungkinan Lebaran 2026 jatuh pada 21 Maret 2026.

Hal ini disampaikan oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, yang memperkirakan Idul Fitri 1447 H versi pemerintah berpotensi berlangsung pada tanggal tersebut.

Prediksi itu didasarkan pada posisi hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara. Menurut Thomas, ketinggian bulan pada waktu tersebut diperkirakan masih berada di bawah batas minimal yang ditetapkan dalam kriteria MABIMS.

Tonton: Prabowo: Perdamaian Tak Cukup dengan Doa, Harus dengan Kerja Keras

"Dalam kriteria yang digunakan oleh Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura itu, hilal dinyatakan dapat terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi setidaknya 6,4 derajat," terang Thomas.

Namun, hasil perhitungan astronomi menunjukkan posisi hilal di Indonesia saat maghrib 19 Maret 2026 kemungkinan belum memenuhi syarat tersebut. Dengan kondisi itu, hilal diperkirakan belum bisa diamati sehingga bulan Ramadan kemungkinan digenapkan menjadi 30 hari.

Jika skenario tersebut terjadi, maka 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/11/113000765/prediksi-1-syawal-lebaran-2026-menurut-muhammadiyah-pemerintah-nu-dan-brin?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×