kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Ini peralatan Basarnas angkat ekor AirAsia


Jumat, 09 Januari 2015 / 14:04 WIB
ILUSTRASI. Menurut diplomat Afrika Selatan, lebih dari 40 negara telah menyatakan minat untuk bergabung dengan BRICS. REUTERS/Mike Hutchings


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Badan SAR Nasional hari ini mengupayakan mengangkat bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Upaya pengangkatan ekor tersebut menggunakan dua cara, yakni dengan floating balloon dan crane.

"Diharapkan dengan dua cara itu ekor pesawat tidak rusak," kata Ketua Basarnas Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo, saat jumpa pers di Kantor Pusat Basarnas, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (9/1).

Soelistyo mengatakan, saat ini tim penyelam sedang dalam proses mengikat ekor pesawat. Proses tersebut dilakukan dengan hati-hati agar ekor pesawat tidak rusak atau pecah saat diangkat ke permukaan. Soelistyo memprediksi keberadaan kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 berada di bagian ekor pesawat.

Dalam proses evakuasi pengangkatan ekor pesawat ini, terdapat pula Kapal Navigasi Jadayat dan tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang berada di lokasi untuk fokus mencari sinyal black box. Keberadaan mereka untuk memastikan apakah black box tersebut ada di ekor atau tidak. " Sehingga, waktu kita tidak habis untuk memastikan posisi black box," kata Soelistyo. (Fatur Rochman)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×