kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Ini jurus BI agar pertumbuhan ekonomi bisa 6%


Senin, 23 Juni 2014 / 11:28 WIB
ILUSTRASI. Promo PegiPegi Gajian 24 Jan -5 Feb 2023, Diskon Bus & Travel Hingga Rp 55.000


Reporter: Issa Almawadi | Editor: Yudho Winarto

MAKASSAR. Bank Indonesia (BI) berharap pertumbuhan ekonomi bisa kembali ke level 6%, meski tahun ini diperkirakan pada kisaran 5,1%-5,5%. Harapan tersebut tidak lah muluk jika penerapan kebijakan reformasi struktural dilakukan dengan baik.

BI pun menyampaikan tiga pilar reformasi struktural yang harus terealisasi. Agus DW Marowardojo, Gubernur BI, menyampaikan pilar pertama adalah peningkatan daya saing industri dan ekonomi nasional.

Pilar pertama artinya industri nasional tidak bisa lagi hanya mengandalkan teknologi rendah. "Industri harus menggunakan teknologi menengah dan modern. Terutama yang menyangkut industri komoditas, jangan lagi ekspor bahan mentah, semua harus value added, dan terus ke hilir," tutur Agus, Senin (23/6).

Pilar kedua adalah peningkatan kemandirian ekonomi. Agus menyebutkan, daerah-daerah di Indonesia jangan terus mengandalkan impor. Apalagi saat ini kondisi impor sudah lebih besar dari ekspor.

Agus menambahkan, pilar ketiga adalah peningkatan sumber pembiayaan yang berkesinambungan. "Harus ada pendalaman pasar modal, pendalaman valas, juga kontribusi besar tidak hanya dari perbankan tapi juga industri non bank," tutur Agus.

Jika semua pilar reformasi struktural itu dilakukan, maka bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali ke level 6%. Sebaliknya, jika tidak dilakukan maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus turun dan sulit naik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×