Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bisa berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, serta memicu kenaikan biaya logistik dalam waktu dekat.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, mengatakan dampak paling langsung yang akan dirasakan Indonesia dari konflik adalah gangguan pada rute-rute perdagangan, terutama yang menuju ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Saat ini, Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis bagi perdagangan energi dan barang global, telah ditutup dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat.
Penutupan jalur ini otomatis menghambat arus kapal dagang yang membawa barang dan komoditas, sehingga kelancaran distribusi barang impor dan ekspor Indonesia berpotensi terganggu dalam waktu dekat.
“Dampak eskalasi konflik AS, Israel, Iran yang akan terasa paling langsung dan immediate untuk Indonesia adalah gangguan pada rute perdagangan, khususnya yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya sarana saat ini Selat Hormuz ditutup, dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat,” ujar Shinta Kamdani saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi Efek Perang AS-Iran, Fokus Utama Jaga daya Beli
Selat Hormuz Tutup, Biaya Ekspor Impor RI bakal Naik
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global yang menjadi pintu keluar-masuk utama minyak dan komoditas dari kawasan Teluk. Gangguan di jalur ini tidak hanya mempengaruhi perdagangan langsung ke Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi menuju Eropa dan Afrika.
Shinta Kamdani menilai pelaku usaha perlu mengantisipasi lonjakan biaya perdagangan akibat eskalasi konflik. Ia mencatat risiko keamanan yang meningkat membuat premi asuransi pengiriman melonjak karena perusahaan pelayaran dan penjamin harus memperhitungkan potensi kerugian akibat konflik.
Di saat yang sama, pembatasan jalur pelayaran dan berkurangnya jumlah kapal yang berani melintas menyebabkan kapasitas angkut menyusut. Ketidakseimbangan antara pasokan kapal dan kebutuhan pengiriman ini dapat memicu kenaikan tarif logistik, tidak hanya ke Timur Tengah, tetapi juga ke kawasan Eropa dan Afrika yang terhubung melalui rute tersebut.
Dampaknya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat dalam waktu relatif singkat.
“Selain mengganggu kelancaran perdagangan ke Timur Tengah, kami rasa kita juga harus mengantisipasi kenaikan atau lonjakan biaya perdagangan, baik yang disebabkan oleh peningkatan beban asuransi perdagangan maupun karena penurunan volume kapal yang dapat melintas, ke kawasan Timur Tengah, Eropa dan Afrika karena eskalasi konflik ini,” paparnya.
Baca Juga: Perang AS-Iran, Harga BBM Berpotensi Naik Lagi, Ekonomi Indonesia Rawan Tertekan
Dampak Penutupan Selat Hormuz Terlihat dalam 2-3 Minggu
Dampak langsung dari eskalasi konflik ini diperkirakan dapat mulai terlihat dalam dua atau tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Ia memastikan gangguan pada jalur perdagangan dan kenaikan biaya logistik berpotensi segera dirasakan pelaku usaha.
“Dampak-dampak yang bersifat langsung ini bisa dilihat segera dalam beberapa hari hingga dua, tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan konflik yang terjadi,” beber Shinta Kamdani.
Di luar dampak langsung, kondisi tersebut juga bisa memicu tekanan inflasi di dalam negeri, terutama pada barang-barang impor yang berasal dari kawasan terdampak, mulai dari bahan bakar minyak hingga komoditas konsumsi seperti kurma.
Tekanan harga ini berpotensi semakin terasa karena bertepatan dengan periode Ramadhan dan Lebaran, ketika permintaan domestik meningkat secara musiman.
Lebih jauh, perkembangan konflik perlu diantisipasi dari sisi ketahanan fundamental ekonomi nasional. Gejolak di Timur Tengah berisiko mengguncang stabilitas harga minyak global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi beban impor energi, beban subsidi pemerintah, posisi cadangan devisa, neraca pembayaran (balance of payments/BOP), serta nilai tukar rupiah.
“Tergantung pada perkembangan konflik, kita juga perlu ‘bracing’ dampak konflik ini thd resiliensi fundamental ekonomi nasional. Ini khususnya perlu diwaspadai karena konflik ini bisa mengguncang stabilitas harga minyak global yang dapat mempengaruhi beban impor, beban subsidi, posisi foreign currency reserves, BOP, dan nilai tukar Indonesia,” kata Shinta Kamdani.
Tonton: Serangan Israel & AS ke Iran: Reaksi Dunia & Risiko Pusaran Konflik Baru di Timur Tengah
RI Perlu Gelontorkan Stimulus
Karena itu, pemerintah diharapkan dapat secara pre-emptive memantau ketahanan ekonomi nasional dan bergerak lebih lincah dalam menciptakan stimulus produktivitas yang diperlukan, khususnya untuk mendorong ekspor dan investasi asing langsung (FDI).
Langkah tersebut penting agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga dan pertumbuhan nasional tidak terganggu oleh efek rambatan konflik global.
“Jadi kami berharap pemerintah bisa secara pre-emptive memonitor resiliensi fundamental ekonomi nasional dan lebih agile dalam menciptakan stimulasi produktivitas ekonomi yang dibutuhkan (khususnya di sisi ekspor dan FDI) agar stabilitas makro ekonomi nasional terus kondusif thd pertumbuhan dan tidak terganggu krn spillover dampak konflik ini,” lanjutnya.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Apindo: Selat Hormuz Ditutup, Perdagangan Indonesia Terancam Tersendat"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












