Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Dampak langsung dari eskalasi konflik ini diperkirakan dapat mulai terlihat dalam dua atau tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Ia memastikan gangguan pada jalur perdagangan dan kenaikan biaya logistik berpotensi segera dirasakan pelaku usaha.
“Dampak-dampak yang bersifat langsung ini bisa dilihat segera dalam beberapa hari hingga dua, tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan konflik yang terjadi,” beber Shinta Kamdani.
Di luar dampak langsung, kondisi tersebut juga bisa memicu tekanan inflasi di dalam negeri, terutama pada barang-barang impor yang berasal dari kawasan terdampak, mulai dari bahan bakar minyak hingga komoditas konsumsi seperti kurma.
Tekanan harga ini berpotensi semakin terasa karena bertepatan dengan periode Ramadhan dan Lebaran, ketika permintaan domestik meningkat secara musiman.
Lebih jauh, perkembangan konflik perlu diantisipasi dari sisi ketahanan fundamental ekonomi nasional. Gejolak di Timur Tengah berisiko mengguncang stabilitas harga minyak global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi beban impor energi, beban subsidi pemerintah, posisi cadangan devisa, neraca pembayaran (balance of payments/BOP), serta nilai tukar rupiah.
“Tergantung pada perkembangan konflik, kita juga perlu ‘bracing’ dampak konflik ini thd resiliensi fundamental ekonomi nasional. Ini khususnya perlu diwaspadai karena konflik ini bisa mengguncang stabilitas harga minyak global yang dapat mempengaruhi beban impor, beban subsidi, posisi foreign currency reserves, BOP, dan nilai tukar Indonesia,” kata Shinta Kamdani.
Tonton: Serangan Israel & AS ke Iran: Reaksi Dunia & Risiko Pusaran Konflik Baru di Timur Tengah
RI Perlu Gelontorkan Stimulus
Karena itu, pemerintah diharapkan dapat secara pre-emptive memantau ketahanan ekonomi nasional dan bergerak lebih lincah dalam menciptakan stimulus produktivitas yang diperlukan, khususnya untuk mendorong ekspor dan investasi asing langsung (FDI).
Langkah tersebut penting agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga dan pertumbuhan nasional tidak terganggu oleh efek rambatan konflik global.
“Jadi kami berharap pemerintah bisa secara pre-emptive memonitor resiliensi fundamental ekonomi nasional dan lebih agile dalam menciptakan stimulasi produktivitas ekonomi yang dibutuhkan (khususnya di sisi ekspor dan FDI) agar stabilitas makro ekonomi nasional terus kondusif thd pertumbuhan dan tidak terganggu krn spillover dampak konflik ini,” lanjutnya.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Apindo: Selat Hormuz Ditutup, Perdagangan Indonesia Terancam Tersendat"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













