kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45960,78   1,83   0.19%
  • EMAS1.033.000 0,49%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Ini Biang Kerok Harga Beras Melejit Menurut BPS


Jumat, 02 Desember 2022 / 09:54 WIB
Ini Biang Kerok Harga Beras Melejit Menurut BPS
ILUSTRASI. Harga beras pada November 2022 mengalami kenaikan. KONTAN/Baihaki


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga beras pada November 2022 mengalami kenaikan. Data tersebut diungkapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). 

Ada beberapa penyebab yang membuat harga beras lebih mahal dari biasanya. Adapun sejumlah faktor yang mempengaruhi harga beras antara lain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga berkurangnya produksi beras. 

Berdasarkan data BPS, pada November 2022 harga beras dibanderol Rp 11.877 per kilogram (kg) atau naik tipis dari bulan sebelumnya yang sebesar Rp 11.837 per kg. Namun kenaikan ini lebih landai dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang naik signifikan. 

Harga beras pada Agustus 2022 sebesar Rp 11.555 per kg lalu naik jadi Rp 11.720 pada September 2022 dan menjadi Rp 11.837 per kg pada Oktober 2022. 

Dengan perlambatan kenaikan harga beras itu, inflasi beras pun berhasil ditekan di November menjadi ke 0,37 persen dari Oktober 2022 sebesar 1,13 persen dan September 2022 sebesar 1,44 persen. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengungkapkan beberapa hal yang menjadi faktor kenaikan harga beras seperti yang dirangkum Kompas.com, yaitu: 

Baca Juga: Jatim dan Jabar Siap Pasok Beras ke Bulog

1. Kenaikan harga BBM 

Dia bilang, kenaikan harga BBM pada awal September 2022 berdampak pada harga tanaman pangan, termasuk beras. Pasalnya, ongkos produksi seperti tarif transportasi, angkut upah buruh, panen, tanam, dan bajak turut mengalami kenaikan sehingga menyebabkan harga gabah naik. 

"Terkait dengan kenaikan harga yang diduga sebagai second round effect dari BBM ini ada terjadi pada tanaman pangan," ujarnya saat konferensi pers virtual, Kamis (1/12/2022). 

Kendati demikian, dia tidak menampik bahwa kenaikan harga tanaman pangan bisa jadi karena efek musiman. Namun yang jelas, jika dibandingkan dengan November 2021 saat harga BBM belum naik, harga tanaman pangan belum mengalami kenaikan. 

"2021 belum ada kenaikan harga BBM sehingga kita duga, dugaan awal kami bahwa ini merupakan second round effect BBM di pertanian," ucapnya. 

2. Adanya Natal dan tahun baru (Nataru) 

Dia mengatakan, adanya Naturu pada akhir tahun ini turut menyumbang kenaikan harga beras. Pasalnya, hal ini menyebabkan pedagang mengantisipasi naiknya permintaan akan beras menjelang Nataru. Terlebih, dengan adanya penurunan produksi beras di Kuartal IV 2022 tadi membuat dari sisi pedagang mengantisipasi kurangnya pasokan beras. 

"Kenaikan harga dari sisi pedagang, ini dilakukan untuk mengantisipasi kurangnya pasokan dan naiknya permintaan akhir tahun atau Nataru," tuturnya.

Baca Juga: Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya

3. Produksi turun 

Setianto menyebut, produksi beras nasional di Kuartal IV 2022 khususnya Desember 2022 tengah mengalami penurunan sehingga menyebabkan harga beras naik. 

"Terjadi penurunan produksi di bulan Desember, jadi akibatnya perlu dipertimbangkan atau terjadi mungkin shortage untuk stok beras secara nasional," ungkapnya. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga Beras Melejit, BPS Ungkap Biang Keroknya"
Penulis : Isna Rifka Sri Rahayu
Editor : Aprillia Ika

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×