kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.357.000 -0,07%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Industri Pengolahan Ditargetkan Capai 19,6% PDB di 2025, Ini Kata Ekonom


Kamis, 25 April 2024 / 20:36 WIB
Industri Pengolahan Ditargetkan Capai 19,6% PDB di 2025, Ini Kata Ekonom
ILUSTRASI. Pemerintah menargetkan sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,5% hingga 6,1% dalam RKP 2025.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dokumen awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 menyebutkan bahwa pemerintah menargetkan sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,5% hingga 6,1%.

Dengan pertumbuhan tersebut, kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan terus mengalami kenaikan sesuai trajectory jangka menengah dan panjang, yakni mencapai 19,3%-19,6% di tahun 2025.

Angka ini naik dari target 2024 sebesar 18,80% dan realisasi 2023 sebesar 18,67%. Kemudian, pada 2021 dan 2020, angka kontribusi PDB industri pengolahan masing-masing mencapai 19,24% dan 19,87%.

Baca Juga: Pabrik Gula SGN, Siap Memulai Giling 2024 Guna Penuhi Kebutuhan Gula Masyarakat

Peneliti ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat bahwa target industri pengolahan terhadap PDB sebesar 19,3% hingga 19,6% cukup berat untuk dicapai. 

Hal ini didasarkan oleh beberapa faktor, terutama melihat data-data terakhir terkait industri dan konsumsi rumah tangga baik di tahun lalu maupun juga di tahun ini yang kondisinya belum membaik seperti sebelum terjadinya pandemi.

Ditambah lagi, proses pemulihan antara satu sub sektor industri manufaktur dengan sub sektor lainnya itu berbeda. 

"Kondisi inilah yang ikut menjadi salah satu faktor yang menghambat laju pertumbuhan sektor industri manufaktur ke level yang lebih tinggi," kata Yusuf kepada Kontan, Kamis (25/4).

Selain itu, tren konsumsi rumah tangga yang padat di awal tahun ini ju ikut mempengaruhi permintaan terhadap berbagai produk barang yang dihasilkan dari sub sektor industri manufaktur.

"Tren perlambatan konsumsi yang terlihat tidak hanya sampai dengan kuartal I 2024, ini berlanjut hingga tahun depan atau kondisinya tidak berbeda jauh dibandingkan kondisi sekarang. Maka itu juga akan ikut mempengaruhi bagaimana ekspansi dari industri manufaktur itu sendiri," ujarnya.

Ia melihat, salah satu industri yang dapat didorong adalah industri manufaktur logam dasar. 

Baca Juga: BI: Kinerja Industri Manufaktur Meningkat pada Kuartal I-2024

"Jika kinerja sub sektor industri manufaktur logam dasar ini bisa didorong, itu juga akan ikut berkontribusi terhadap pertumbuhan keseluruhan atau agregat sektor industri manufaktur," terangnya.

Sementara itu, dokumen RKP 2025 juga menyebutkan sejumlah faktor-faktor pendorong kinerja industri pengolahan pada tahun 2025.

Pertama, beberapa proyek investasi yang diharapkan sudah masuk tahap operasional di tahun 2025, seperti proyek investasi petrokimia di Banten dan proyek hilirisasi tembaga di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. 

Kedua, peningkatan permintaan barang konsumsi di beberapa mitra dagang, terutama di negara berkembang seperti India serta negara-negara di Timur Tengah dan Asia Pasifik.

Ketiga, permintaan di dalam negeri yang diharapkan masih akan terjaga seiring dengan tingkat inflasi yang terkendali.

Terakhir, keberlanjutan pembangunan proyek Ibu Kota Nusantara yang akan mendorong permintaan besi-baja dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×