kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45902,72   3,97   0.44%
  • EMAS1.318.000 -0,68%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Industri gula rafinasi kantongi izin impor 1,1 juta ton untuk semeter I 2020


Rabu, 05 Februari 2020 / 20:25 WIB
Industri gula rafinasi kantongi izin impor 1,1 juta ton untuk semeter I 2020
ILUSTRASI. Industri gula rafinasi kantongi izin impor 1,1 juta ton untuk semeter I 2020


Reporter: Vendi Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah sempat jadi polemik, akhirnya sejumlah perusahaan anggota Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) mendapat izin impor gula  dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebesar 1,1 juta ton. Gula impor ini diproyeksikan akan masuk mulai pekan depan ke Indonesia. 

Ketua AGRI Bernardi Dharmawan mengatakan, surat persetujuan impor (PI) gula tersebut telah diterbitkan pada 31 Januari 2020. Nantinya gula yang diimpor itu digunakan untuk diproduksi menjadi gula kristal rafinasi (GKR). Ia mengatakan, izin impor itu digunakan untuk semester I tahun ini. Rencananya, impor akan mulai masuk pada pekan depan.

Baca Juga: Bea Cukai gagalkan penyelundupan 41 karung gula rafinasi

"Sudah diterbitkan izin impor kepada sebagian anggota AGRI untuk diproduksi jadi GKR sekitar 1,1 juta ton untuk semester 1 2020. Sekitar minggu depan sudah mulai masuk," kata Bernardi kepada Kontan, Rabu (5/2).

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman, mengatakan, dengan dikeluarkannya izin impor tersebut diharapkan dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri.

"Namun akan review terus. Kalau tidak cukup akan kami sampaikan ke pemerintah," kata Lukman kepada Kontan.

Baca Juga: Industri mamin waswas pasokan stok gula menjelang ramadan nanti

Lukman mengatakan, perkiraan kebutuhan untuk gula konsumsi tahun ini sekitar 2,7 juta sampai 2,8 juta ton. Sedangkan kebutuhan gula untuk industri diperkirakan sebanyak 3,1 juta ton hingga 3,2 juta ton. "Produksi dalam negeri tahun lalu sekitar 2.2 juta ton," kata Lukman.

Sebelumnya AGRI mengklaim sembilan prabik gula produsen gula kristal rafinasi (GKR) terancam berhenti beroperasi karena kehabisan bahan baku. Hal itu terjadi karena persetujuan impor (PI) gula mentah (raw sugar) belum jugat terbit dari pemerintah.

Sejauh ini, AGRI mengklaim stok gula mentah semakin tipis di sejumlah pabrik. "Apabila izin impor tidak keluar sampai dengan akhir bulan Januari 2020 maka ada sekitar sembilan pabrik GKR akan stop operasi," ujar Ketua AGRI Bernardi Dharmawan saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (21/1).

Baca Juga: Belum dapat izin impor, 9 industri gula rafinasi terancam berhenti produksi

Menurut Bernardi, berhentinya operasi sembilan pabrik akan berdampak bagi industri makanan minuman (mamin). Pasalnya industri yang tergabung dalam AGRI lah yang memasok kebutuhan Gula Kristal Rafinasi (GKR) industri mamin.

Impor raw sugar untuk industri mamin dilakukan oleh 11 perusahaan yang tergabung dalam AGRI. Antara lain adalah PT Angels Products, PT Jawamanis Rafinasi, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata Dunia Sukses Utama, PT Dharmapala Usaha Jaya, serta PT Sugar Labinta.

Selain itu, ada pula PT Duta Sugar International, PT Makassar Tene, PT Berkah Manis Makmur, PT Andalan Furnindo, dan PT Medan Sugar Industry. Berikutnya raw sugar diolah menjadi GKR dan didistribusikan kepada industri mamin.

Baca Juga: Gapmmi sebut ada 4 pabrik mamin berhenti produksi karena izin impor GKR belum terbit

Sebelumnya kuota impor raw sugar untuk tahun 2020 sebesar 3,2 juta ton. Setengah dari angka tersebut direkomendasikan untuk dikeluarkan pada semester pertama tahun 2020. "Rekomendasi yang telah diterbitkan 1,6 juta ton untuk semester satu," terang Bernardi.

AGRI pun telah bersurat kepada Menteri Perdagangan agar segera menerbitkan PI sesuai rekomendasi. Hal itu mendesak mengingat menjelang puasa kebutuhan GKR akan meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Practical Business Acumen

[X]
×