kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

INDEF: Pemerintah tak optimal turunkan kemiskinan


Rabu, 02 April 2014 / 20:26 WIB
ILUSTRASI. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mengatakan pihaknya berencana menambah pabrik di Kalimantan Timur tahun 2023. Foto Dok BWPT


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan, peningkatan anggaran kemiskinan oleh pemerintah tidak signifikan mengurangi tingkat kemiskinan.

Pengamat Ekonomi INDEF Fadel Hasan, menilai, pemerintah belum memiliki program masif dan nyata dalam menekan angka kemiskinan. Menurut Fadel, salah satu penyebab angka kemiskinan sulit diturunkan dikarenakan program pengentasan kemiskinan terlepas dan tidak terintegrasi dengan pembangunan pedesaan, pertanian serta pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

"Tingkat kemiskinan berjalan di tempat. Bahkan, tingkat pengangguran terbuka menurun secara lambat," kata Fadel dalam konferensi pers bertema "Kebijakan Ekonomi 5 tahun Mendatang: Merebut Momentum, Membalik Keadaan," di Jakarta, Rabu (2/4).

Fadel menambahkan, meski tingkat pengangguran terbuka dapat diturunkan, namun penurunannya sangat lambat. Hal tersebut diakibatkan sumber pertumbuhan ekonomi yang hanya bertumpu pada sektor non tradable yang kedap terhadap penyerapan tenaga kerja.

"Perlu ada kebijakan lain dari pemerintah. Ketimpangan antara penduduk yang kaya dan miskin semakin melebar," ujarnya.

Lebih lanjut Fadel menambahkan, peningkatan ketimpangan antara penduduk yang kaya dan yang miskin membuat capaian pertumbuhan ekonomi tidak dapat dinikmati semua lapisan masyarakat meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai level rata-rata 6% per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×