kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

INDEF: Pertumbuhan ekonomi tak berkualitas


Rabu, 02 April 2014 / 19:36 WIB
ILUSTRASI. Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) meyakini perbankan saat ini masih dalam kondisi sehat


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, meski ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 6% per tahun namun sayangnya pertumbuhan tersebut tidak berkualitas.

Pengamat Ekonomi INDEF Fadel Hasan menyatakan, ekonomi Indonesia selama periode 2004-2013 rata-rata mampu tumbuh 5,8% per tahun. Sayangnya, capaian pertumbuhan ini diikuti dengan semakin terpinggirkannya sektor tradable dan makin lebarnya ketimpangan.

Karena itu, menurutnya, pemerintah harus segera menyelesaikan persoalan yang tengah terjadi, lantaran "warisan" persoalan ekonomi Indonesia semakin menggunung.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi, tapi tidak berkualitas. Pemerintah harus segera mengubah strategi agar pertumbuhan Indonesia memang benar-benar berkualitas," kata Fadel dalam konferensi pers bertema "Kebijakan Ekonomi 5 tahun Mendatang: Merebut Momentum, Membalik Keadaan" di Jakarta, Rabu (2/4).

Fadel menambahkan, sejauh ini INDEF mencatat terdapat 10 indikator yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja pemerintah selama 10 tahun terahkir. Dengan ini, diharapkan terjadi perubahan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi.

10 indikator itu adalah:
1. Pertumbuhan ekonomi tinggi, namun rapuh dan tidak berkualitas.
2. Tingkat pengangguran terbuka menurun secara lambat
3. Tingkat kemiskinan berjalan di tempat
4. Ketimpangan semakin melebar
5. Perekonomian menghadapi tekanan inflasi
6. Nilai tukar petani (NTP) tidak kunjung meningkat
7. Sektor formal meningkat, namun porsi secara informal masih terlalu besar
8. Tax ratio stagnan
9. Belanja rutin dan subsidi semakin tidak terkendali
10. Terbelit defisit neraca perdagangan

"Dalam kurun waktu hampir 10 tahun antara 2004-2014 banyak kesempatan yang terlewatkan. Padahal Indonesia memiliki potensi besar," jelas Fadel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×