kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ikatan Guru minta Nadiem Makarim prioritaskan anggaran untuk ketersediaan guru


Rabu, 04 Desember 2019 / 06:06 WIB
Ikatan Guru minta Nadiem Makarim prioritaskan anggaran untuk ketersediaan guru
ILUSTRASI. Ikatan Guru minta Nadiem Makarim prioritaskan anggaran untuk ketersediaan guru. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/wsj.

Reporter: Vendi Yhulia Susanto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim mengatakan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim harus mampu memainkan politik anggaran pendidikan dengan memprioritaskan anggaran pada ketersediaan guru di Indonesia.

Berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik), Guru Indonesia hanya berjumlah 2.769.203. Artinya jika guru Indonesia diberikan upah rata-rata Rp.5.000.000/bulan, maka setiap bulan hanya membutuhkan Rp 13.846.015.000.000 atau hanya Rp. 166.152.180.000.000/tahun atau hanya 7,48% dari APBN.

Baca Juga: Ini alasan Menteri Nadiem soal wacana penghapusan ujian nasional

"Mengapa pendapatan guru harus memadai ? karena tak mungkin membandingkan tanggungjawab guru Indonesia yang hanya diberi upah Rp.100.000/bulan dengan negara lain di dunia. Bagaimana mungkin bangsa ini menggantungkan masa depannya pada pesawat terbang yang menggunakan minyak tanah dan dipaksa bersaing dengan pesawat yang menggunakan avtur??," ujar Ramli dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan, Selasa (3/12).

Ramli mengatakan, kegiatan-kegiatan tidak penting seperti ujian nasional, diklat mewah di hotel berbintang dan kegiatan seremonial lainnya harus dihentikan. Anggaran pendidikan untuk kementerian lain di luar pendidikan harus dikembalikan ke pendidikan dan Nadiem harus punya keberanian untuk itu.

"Jika tidak, jangan pernah berharap bangsa ini bisa maju seperti yang lainnya. Negeri ini tak boleh lagi membohongi rakyatnya seolah-olah anggaran pendidikan sudah 20% dari APBN dan 20% dari APBD," ungkap dia.

Baca Juga: Sri Mulyani kepada Nadiem: It's not about the money...

Ramli juga meminta pola pelatihan guru dan kepala sekolah yang selama ini dijalankan UPT Kemdikbud mesti dievaluasi karena cenderung membuang anggaran tanpa hasil yang jelas. "Faktanya, pendidikan di Indonesia tak beranjak, minimal berdasarkan hasil dari PISA ini," ucap dia.

Sebagai informasi, Skor Indonesia pada Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diselenggarakan oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) masih di bawah rata-rata organisasi tersebut.

Hasil PISA 2018 yang dirilis oleh OECD di Paris, Prancis, Selasa (3/12/2019), menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca meraih skor rata-rata yakni 371, jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487.




TERBARU

Close [X]
×