kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 17.998   74,00   0,41%
  • IDX 6.148   -94,03   -1,51%
  • KOMPAS100 799   -14,31   -1,76%
  • LQ45 612   -9,30   -1,50%
  • ISSI 212   -3,34   -1,55%
  • IDX30 339   -4,87   -1,42%
  • IDXHIDIV20 427   -2,25   -0,52%
  • IDX80 91   -1,67   -1,79%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,73%
  • IDXQ30 110   -0,92   -0,84%

Hadapi MEA, Indonesia perlu tingkatkan UKM


Senin, 12 Mei 2014 / 12:16 WIB
ILUSTRASI. Alice in Borderland season kedua akan tayang kembali di Netflix pada minggu ini, melanjutkan petualangan Arisu dan Usagi setelah terperangkap di Borderland.


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Sebentar lagi Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015. Dalam menghadapi pasar bebas Asean tersebut, Indonesia harus menyiapkan Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk bisa bersaing.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan dalam menghadapi integrasi kawasan Asean, Indonesia harus menyiapkan energi untuk meningkatkan daya saing. Salah satu sektor yang perlu ditingkatkan daya saingnya adalah sektor UKM.

Menurut Agus, untuk menjadi pemain tangguh maka potensi UKM harus digali dan diperkaya dengan kewirausahaan. Saat ini wirausaha di Indonesia masih terbatas.

"Baru 1,65% dari jumlah penduduk yang berwirausaha," ujarnya dalam Mandiri Institute "Committed to a better Indonesia" di Jakarta, Senin (12/5).

Persentase 1,65% tersebut bila dibanding dengan negara Asean lainnya sangatlah rendah. Misalnya, Singapura dan Thailand yang wirausahanya sudah lebih dari 4% dari jumlah penduduk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×