kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.126   12,00   0,07%
  • IDX 7.497   39,00   0,52%
  • KOMPAS100 1.037   7,45   0,72%
  • LQ45 746   -0,45   -0,06%
  • ISSI 271   2,55   0,95%
  • IDX30 399   -0,89   -0,22%
  • IDXHIDIV20 487   -3,51   -0,72%
  • IDX80 116   0,49   0,42%
  • IDXV30 135   -0,10   -0,08%
  • IDXQ30 128   -0,96   -0,74%

Gejolak Iran–AS Picu Tekanan Global, ASEAN Siapkan Strategi Tahan Guncangan


Senin, 13 April 2026 / 12:36 WIB
Gejolak Iran–AS Picu Tekanan Global, ASEAN Siapkan Strategi Tahan Guncangan
ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas dekat gapura Bank Indonesia (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mulai menekan perekonomian global melalui tiga jalur utama, yakni finansial, harga komoditas, serta perdagangan. 

Dampak ini memicu ketidakpastian pasar, kenaikan harga energi, hingga gangguan rantai pasok, yang berpotensi menyeret ekonomi global ke arah perlambatan disertai inflasi.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, dari sisi finansial, dampak langsung konflik relatif terbatas karena Iran dan Israel bukan pusat keuangan global.

Baca Juga: Ekonomi Dunia Terancam Resesi: Konflik Iran-AS Picu Krisis Energi

Namun, efek tidak langsung menjadi signifikan karena keterlibatan AS sebagai pusat sistem keuangan dunia.

"Dampak tidak langsungnya adalah ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya sentimen risiko,” ujar Destry dalam Central Banking Forum, Senin (13/4/2026).

Kondisi ini mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman (safe haven) dan menghindari risiko (risk-off).

Akibatnya, aliran modal global lebih banyak masuk ke negara maju, sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan arus keluar dana.

BI mencatat, secara keseluruhan masih terjadi capital outflow sekitar Rp 21 triliun, meski mulai ada aliran masuk terbatas ke SBN, saham, dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI).

Baca Juga: Gejolak Tarif AS Picu Desakan Tunda Voting Perjanjian Dagang UE-AS

Tekanan juga terlihat dari penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil obligasi AS ke kisaran 4,5%–4,6%, yang mencerminkan meningkatnya premi risiko global dan ekspektasi inflasi.

Dari sisi harga komoditas, konflik memicu gangguan distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Meski kontribusi produksi Iran hanya sekitar 5% global, gangguan di jalur ini langsung mendorong kenaikan harga minyak.

Selain itu, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas meningkat. Harga komoditas lain seperti gas alam cair (LNG), batubara, aluminium, pupuk, hingga produk pertanian juga ikut terdorong naik. 

Baca Juga: Anomali Perang Iran: AS Optimis Usai Cepat, Iran Tegas Tolak Negosiasi

Kenaikan harga batubara dan crude palm oil (CPO) bahkan memberi efek positif bagi Indonesia sebagai eksportir utama komoditas tersebut, meski di sisi lain lonjakan harga minyak menjadi beban.

Dari jalur perdagangan, kontribusi Iran terhadap perdagangan global memang kecil, di bawah 1%. Namun, gangguan di Selat Hormuz berdampak pada rantai pasok negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Efek lanjutannya merembet ke mitra dagang utama seperti China, India, dan Turki.

Gangguan ini mendorong kenaikan biaya logistik, pengapalan, dan asuransi, yang akhirnya menekan rantai pasok global.

Destry menyimpulkan, kombinasi ketiga jalur tersebut mendorong kenaikan harga komoditas secara luas, mulai dari energi hingga produk pertanian dan industri.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketegangan Iran-AS dan Data Ekonomi AS

Situasi ini diperkirakan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global tahun ini, disertai kenaikan inflasi. BI menilai kondisi tersebut mengarah pada risiko stagflasi, yakni ketika pertumbuhan melambat namun tekanan harga tetap tinggi.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×