kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Film Soekarno dinilai menyesatkan sejarah


Sabtu, 21 Desember 2013 / 18:42 WIB
ILUSTRASI. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/05/08/2015


Sumber: TribunNews.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) DKI Jakarta menyoroti film 'Soekarno' garapan sutradara Hanung Bramantyo. Film tersebut dinilai menyesatkan sejarah Indonesia.

Ketua Pimpinan Cabang Persatuan Alumni GMNI Jakarta Timur, Hendriyana, mengatakan Soekarno atau akrab dikenal dengan nama Bung Karno merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia. Menurutnya film tersebut justru menyesatkan sejarah Indonesia.

"Ini pelecehan dengan film yang berkedok perjalanan Bung Karno dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia. Rakyat Indonesia dibodohi melalui penyesatan sejarah dengan cara modern," cetus Hendri, Sabtu (21/12).

Kata Hendri, perjuangan Bung Karno tidak dilakukan melalui cara KKN dengan Belanda. Ia pun memberi contoh adegan yang dimaksud, yakni saat Inggit memberikan uang kepada sipir penjara untuk bertemu Bung Karno.

"Seorang istri anti Belanda (ibu Inggit) memberikan uang kepada sipir hanya untuk bertemu Bung Karno saat di penjara. Serta rakyat mau bergerak membela bung Karno saat ibu Inggit memberikan sejumlah uang kepada rakyat. Masyarakat Indonesia mencintai Bung Karno dengan segenap jiwa raga, bukan karena uang," tegasnya.

Satu hal lagi yang tidak sesuai pada film tersebut, lanjut Hendri, produser film ini hanya menekankan bahwa Bung Karno seorang laki-laki yang lebih tertarik dengan wanita. Bukan sosok pahlawan yang siap membela tanah airnya.

"Di film ini juga menciptakan karakter Bung Karno sebagai seseorang yang tidak memiliki ketegasan dalam bersikap dan tidak mau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Film ini adalah kebohongan sejarah. Film ini harus ditarik dari bioskop-bioskop yang ada di Indonesia," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×