kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 18.010   -10,00   -0,06%
  • IDX 5.960   43,58   0,74%
  • KOMPAS100 777   6,73   0,87%
  • LQ45 591   6,13   1,05%
  • ISSI 205   0,33   0,16%
  • IDX30 334   3,30   1,00%
  • IDXHIDIV20 413   4,20   1,03%
  • IDX80 88   0,87   0,99%
  • IDXV30 111   1,04   0,94%
  • IDXQ30 108   1,00   0,93%

Ekspor Listrik Hijau ke Singapura, Bahlil Sebut Harga Masih Dinegosiasikan


Selasa, 07 Juli 2026 / 10:24 WIB
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura, Bahlil Sebut Harga Masih Dinegosiasikan
ILUSTRASI. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat di Kantor Kementerian ESDM, Jaka (KONTAN/Arif Ferdianto)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus mematangkan rencana ekspor listrik hijau ke Singapura. Hubungan kerja sama bilateral di sektor energi tersebut menjadi salah satu agenda dalam pertemuan antara Pemerintah Indonesia dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama sektor energi yang telah disepakati sejak tahun lalu. Ini mencakup tiga poin utama yaitu ekspor listrik hijau, pengembangan kawasan industri hijau, serta teknologi carbon capture and storage (CCS).

"Tadi kita membahas menyangkut dengan listrik. Dari satu tahun lalu kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. Ada tiga MoU kita. Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau, kedua kawasan industri hijau, dan yang ketiga adalah untuk carbon capture storage atau CCS-nya. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani sejak tahun kemarin," ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: RI Berencana Ekspor Listrik ke Singapura, Bahlil: Harganya Harus Cengli!

Meski perkembangan proyek dinilai positif, Bahlil mengungkapkan bahwa proses negosiasi tarif masih terus berlangsung. Pemerintah Indonesia menginginkan kesepakatan komersial yang tidak hanya membuka peluang ekspor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang seimbang serta adil bagi kedua negara tetangga.

"Nah, terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ungkapnya.

Sebagai informasi, rencana perdagangan listrik lintas batas ini merupakan bagian dari 26 kesepakatan baru yang ditandatangani oleh kedua negara. Sebanyak 18 kesepakatan merupakan kerja sama antarpemerintah (G-to-G), sedangkan delapan lainnya merupakan kerja sama pelaku usaha (B-to-B) untuk mendukung transisi energi berkelanjutan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tunjuk Danantara Garap Kerja Sama Listrik Lintas Batas RI-Singapura

Diberitakan sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara) resmi mempercepat realisasi proyek perdagangan listrik lintas batas (Cross-Border Electricity Trade/CBET) antara Indonesia dan Singapura.

Danantara Investment Management (DIM) menandatangani dua nota kesepahaman (MoU) dengan Keppel Electric dan Sembcorp Utilities untuk menjajaki pembelian listrik rendah karbon impor. Selain itu, Danantara juga menyepakati kerja sama dengan Singapore Energy Interconnections (SGEI) guna memfasilitasi pertukaran informasi teknis serta komersial dalam pengembangan jaringan interkoneksi listrik antaranegara.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani menyambut baik penandatanganan kerja sama ini yang dinilai sejalan dengan pernyataan para pemimpin kedua negara. 

Rosan bersama Menteri Singapura Bidang Energi, Sains dan Teknologi, Tan See Leng berharap proyek berkapasitas sedikitnya 3,4 gigawatt (GW) ini bisa terkomersialisasi pada tahun 2035.

Guna mendukung pelaksanaan proyek energi bersih tersebut, pemerintah Indonesia dan Singapura segera menyusun kerangka regulasi, kebijakan, beserta berbagai persyaratan pendukung investasi yang kondusif. 

Rosan menegaskan komitmen penuh Indonesia untuk menyelesaikan kebutuhan regulasi dan infrastruktur domestik karena listrik yang dihasilkan murni berasal dari kapasitas pembangkit baru. 

"Pada dasarnya, proyek ini merupakan katalis bagi percepatan industrialisasi hijau di Indonesia. Interkoneksi dengan Singapura hanyalah salah satu bagian dari transformasi strategis yang jauh lebih besar," kata Rosan.

Kedua negara juga akan menerapkan Kerangka Sertifikat Energi Terbarukan Lintas Batas (Cross-Border Renewable Energy Certificate/REC) yang selaras dengan standar internasional sebelum aliran listrik pertama mulai berlangsung.

Baca Juga: DEN Dukung Rencana Ekspor Listrik ke Singapura, Incar Investasi Besar di Sektor EBT

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×