kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

Ekonom Indef Sebut Penciptaan Lapangan Kerja Terhambat Swasta yang Enggan Ekspansi


Selasa, 20 Oktober 2026 / 21:26 WIB
Ekonom Indef Sebut Penciptaan Lapangan Kerja Terhambat Swasta yang Enggan Ekspansi
ILUSTRASI. Pekerja melintas di trotoar kawasan perkantoran Sudirman (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Genap dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, penciptaan lapangan kerja masih menjadi tantangan di tengah peningkatan investasi.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, investasi yang cenderung mengarah ke sektor padat teknologi serta tertahannya ekspansi swasta membuat penyerapan tenaga kerja belum optimal.

Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto mengatakan, meski ekonomi tumbuh 5,45% pada semester I-2026, sektor swasta dan industri justru melemah di tengah meningkatnya peran BUMN dan belanja pemerintah pusat.

Baca Juga: Penyerapan Tenaga Kerja Swasta AS Melambat, Angkatan Kerja Turun ke Level Terendah

Menurut Eko, kondisi tersebut membuat dunia usaha cenderung lebih pesimistis dan menahan ekspansi. Dampaknya, penciptaan lapangan kerja menjadi terbatas meskipun investasi mengalami peningkatan.

“Kondisi ini menciptakan situasi bisnis yang lebih pesimistis. Implikasinya, swasta enggan melakukan ekspansi sehingga penciptaan lapangan kerja menjadi terbatas. Meskipun investasi meningkat, arahnya cenderung ke sektor padat teknologi,” ujar Eko kepada KONTAN, Selasa (20/10).

Eko menilai, terbatasnya penciptaan lapangan kerja juga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

Menurut dia, kenaikan pendapatan masyarakat belum sebanding dengan tekanan inflasi yang dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kenaikan harga energi nonsubsidi, gangguan jalur logistik, hingga penurunan produksi akibat fenomena El Niño.

Tekanan daya beli tersebut juga tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang hanya berada di kisaran 5%. Sementara itu, kredit investasi meningkat, antara lain seiring dengan proyek-proyek pemerintah.

Baca Juga: Ekonom Indef: MBG dan Kopdes Belum Cukup Jadikan Desa Kutub Ekonomi Baru

Memasuki tahun ketiga pemerintahan Prabowo Subianto, Eko menilai pemerintah perlu memperluas penciptaan lapangan kerja formal sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.

Pemerintah juga perlu meningkatkan produktivitas kelompok berpendapatan rendah agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

“Tantangan ke depan adalah mendorong daya beli kelas menengah, meningkatkan produktivitas masyarakat kelas bawah, dan menciptakan lapangan kerja formal. Selain itu, stabilitas harga bahan pokok dan sektor keuangan juga perlu dijaga,” pungkas eko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×