kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Tembus US$ 50 Miliar pada 2026, Ini Pendorongnya


Selasa, 20 Oktober 2026 / 21:49 WIB
DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Tembus US$ 50 Miliar pada 2026, Ini Pendorongnya
ILUSTRASI. Ekspor smelter grade alumina (SETNEG/BPMI Setpres)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai sekitar US$ 50 miliar pada 2026. 

Anggota DEN, Septian Hario Seto mencatat nilai ekspor tersebut diperkirakan meningkat hampir 45% dibandingkan realisasi pada 2024 yang mencapai sekitar US$ 34,5 miliar. 

Menurutnya peningkatan ini terjadi karena ditopang oleh ekspor produk hilirisasi banyak komoditas termasuk aluminium, serta komponen baterai lithium yang terus berkembang.

“Sekarang yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tapi ada dua komponen hilirisasi lainnya yang juga berkembang cukup pesat,” ujar Seto dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Selasa (20/10/2026). 

Lebih detil, DEN memperkirakan nilai ekspor produk aluminium pada 2026 mencapai US$ 7,2 miliar, naik dari sekitar US$ 3,5 miliar pada 2024. 

Baca Juga: Pemerintah Kejar Investasi Hilirisasi US$ 618 Miliar, Ekspor Diharap US$ 857 Miliar

"Ke depannya kita perkirakan untuk alumunium ini ekspornya bisa melebihi US$10 miliar seiring dengan penambahan-penambagan investasi dari smelter-smelter alumunium baru di Indonesia," ungkap Seto. 

Selain aluminium, pengembangan industri komponen baterai lithium juga menjadi bagian dari ekspansi hilirisasi Indonesia. 

Menurut Seto, Indonesia kini telah memproduksi sejumlah komponen baterai, seperti anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian lithium atau lithium refinery.

Seto mengatakan, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa industrialisasi tidak harus terbatas pada pengolahan bahan baku yang tersedia di dalam negeri. 

Menurutnya, Indonesia juga dapat membangun industri yang terintegrasi dalam rantai pasok global, termasuk untuk komponen baterai yang menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap," ungkap Seto. 

Baca Juga: DEN: Ekspor Indonesia Tetap Tumbuh, Ditopang Komoditas dan Hilirisasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×