Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat aset keuangan syariah meningkat menjadi Rp 3.131 triliun pada kuartal II 2026, sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan syariah.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa peningkatan aset keuangan syariah tersebut sejalan dengan sektor unggulan rantai nilai halal Indonesia yang tumbuh 5,50% year on year (yoy), terutama didukung makanan halal, fesyen muslim, dan pariwisata ramah muslim.
Di sisi lain, literasi ekonomi syariah meningkat dari 16,30% pada 2019 menjadi 50,18% pada 2025, yang berarti sekitar satu dari dua penduduk Muslim Indonesia telah memiliki pemahaman ekonomi syariah yang baik.
Baca Juga: BI Catat Pertumbuhan Uang Primer M0 Melambat Jadi 13,8% YoY per Juni 2026
“Berbagai capaian tersebut patut disyukuri, namun harus terus ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Ketiganya diarahkan agar semakin terintegrasi, berdampak nyata, dan inklusif. Kunci mewujudkannya adalah sinergi. Semangat sinergi inilah yang kita wujudkan melalui FESyar Jawa 2026," tutur Destry dalam keterangannya, Sabtu (26/10/2026).
Adapun ia menyampaikan, ekonomi dan keuangan syariah memiliki peran strategis sebagai sumber pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan serta pilar transformasi ekonomi nasional.
Penguatan peran tersebut dilakukan melalui pengembangan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi dan berdaya saing, perluasan pembiayaan syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah.
Sinergi antara pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, pemerintah, pesantren, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci agar ketiga pilar tersebut semakin terintegrasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat Jadi US$ 453,4 Miliar pada Kuartal II-2026
Sejalan dengan hal tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan pentingnya memastikan pengembangan ekonomi syariah menghasilkan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Sinergi yang dibangun melalui FESyar perlu menghasilkan kerja sama yang terus berlanjut untuk memperkuat usaha serta membuka akses pasar dan pembiayaan.
“Ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan hanya seberapa besar asetnya, tetapi seberapa luas manfaat dan kemaslahatan yang dihasilkannya," tutur Khofifah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














