kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Ekonom Buka-bukaan Soal Kondisi Ekonomi Indonesia: Memburuk, Tapi Belum Krisis!


Minggu, 05 Juli 2026 / 16:14 WIB
Ekonom Buka-bukaan Soal Kondisi Ekonomi Indonesia: Memburuk, Tapi Belum Krisis!
ILUSTRASI. Peringkat kredit pengembang properti tetap lemah (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Indonesia dinilai tengah mengalami perlambatan yang semakin nyata. 

Pelemahan aktivitas manufaktur, munculnya defisit neraca perdagangan, hingga tekanan di pasar keuangan menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi sedang memburuk. 

Meski demikian, situasi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai krisis karena fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga.

Baca Juga: Data Marketplace Kini Dibuka, Pedagang Beromzet Besar Tak Lagi Bisa Bersembunyi

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa salah satu indikator yang paling jelas terlihat adalah merosotnya Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 46,9.

Angka tersebut menandakan sektor manufaktur masih berada di zona kontraksi karena aktivitas produksi melemah.

"Yang perlu diperhatikan bukan hanya angkanya yang berada di bawah 50, tetapi juga karena pesanan baru, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja ikut menurun," ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (5/7).

Menurutnya, penurunan pesanan baru dan ekspor mencerminkan melemahnya permintaan, baik dari pasar domestik maupun luar negeri. 

Di sisi lain, pelaku industri juga menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga energi, sehingga tekanan terhadap dunia usaha semakin besar.

Selain sektor manufaktur, Yusuf juga menyoroti defisit neraca perdagangan yang terjadi setelah Indonesia selama enam tahun berturut-turut mencatat surplus. 

Namun, ia menilai defisit tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai anjloknya daya saing ekspor nasional.

Menurutnya, penyebab utama defisit berasal dari lonjakan impor minyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus.

"Jadi, ini bukan berarti daya saing ekspor Indonesia tiba-tiba runtuh, melainkan menunjukkan bahwa kita masih rentan terhadap gejolak harga energi global," katanya.

Baca Juga: Mandiri Spending Index: Pertumbuhan Konsumsi Masyarakat Melambat pada Kuartal II-2026

Tekanan tersebut, lanjut Yusuf, kemudian tercermin di pasar keuangan. Nilai tukar rupiah melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi, dan arus dana asing keluar dari pasar saham meningkat.

Ia menilai kondisi tersebut merupakan respons pasar terhadap kombinasi perlambatan ekonomi domestik, meningkatnya inflasi, defisit perdagangan, serta suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi sehingga dolar AS tetap menguat.

Meski mengakui kondisi ekonomi sedang melambat, Yusuf menegaskan Indonesia belum memasuki fase krisis struktural. 

Fundamental ekonomi masih cukup kuat, namun kemampuan untuk meredam guncangan eksternal mulai menipis.

"Fundamental ekonomi masih relatif terjaga, hanya saja ruang bantalnya menjadi lebih tipis sehingga kita lebih sensitif terhadap guncangan dari luar," imbuh Yusuf.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, Yusuf menyarankan pemerintah memprioritaskan tiga langkah. 

Pertama, mengurangi tekanan dari defisit migas dengan mempercepat upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. 

Kedua, menjaga daya beli masyarakat dan aktivitas industri agar permintaan domestik kembali menguat.

Selain itu, ia menilai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Kemenkop Gandeng Agrinas Kelola Sawit Berbasis Koperasi, Awas Risiko Ketergantungan

Menurutnya, kepastian kebijakan juga menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×