kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ekonom BCA: BI perlu naikkan suku bunganya


Senin, 22 Oktober 2018 / 19:47 WIB
ILUSTRASI. David Sumual


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai Bank Indonesia (BI) perlu mengkaji kenaikan kembali bunga acuannya sebesar 25 bps.

Untuk mengantisipasi gejolak dari eksternal seperti kenaikan suku bunga yang direncanakan oleh The Fed dan isu perang dagang yang belum mereda.

"Bank sentral Amerika masih afirmatif naikkan suku bunga, dan isu perang dagang juga belum akan mereda," jelas David kepada Kontan.co.id, Senin (22/10).

Kenaikan suku bunga juga jadi tameng untuk mengantisipasi membengkaknya defisit transaksi pada kuartal IV ini. David memprediksi defisit akan melebar hingga 3,3%.

Hingga akhir tahun, David juga memprediksi kenaikan suku bunga BI akan mencapai 50bps. Kenaikan akan terjadi pada November 2018. Jadi periode Oktober hingga Desember, nantinya BI diprediksi menaikkan suku bunga dua kali.

"Ya kalau mau current deficit account (CAD) lebih rendah dari 2,5% perlu kenaikan suku bunga, untuk dorong penurunan defisit. Apalagi beban transaksi berjalan, contoh bahan bakar minyak (BBM) pemerintah kan banyak pertimbangan non-ekonomi," ungkap David.

Terkait BBM, pemerintah menerapkan kebijakan BBM satu harga, serta tidak ada kenaikan harga hingga 2019. Padahal kondisi saat ini harga minyak dunia semakin tinggi. Harga minyak Brent per hari ini USS$ 80 per barel, sedangkan minyak crude capai US$ 69,49 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×