kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

DPR minta pembatalan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, Sri Mulyani menolak


Selasa, 18 Februari 2020 / 16:01 WIB
ILUSTRASI. Peserta BPJS Kesehatan mengantri di kantor BPJS Kesehatan Jakarta, Kamis (23/1).


Reporter: Grace Olivia | Editor: Khomarul Hidayat

Respons Sri Mulyani itu pun sontak memancing emosi para anggota dewan dalam Rakergab tersebut. Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto menganggap kehadiran pemerintah, termasuk Menteri Keuangan, dalam pembahasan persoalan tersebut sama saja sia-sia jika tidak berujung pembatalan kenaikan tarif iuran BPJS Kesehatan.

“Kalau Ibu Menkeu tidak setuju iuran batal dinaikkan, ya lebih baik tidak usah datang lagi rapat di sini, tidak perlu diundang lagi saja. Kalau negara mau (membantu), pasti ada solusi!,” teriaknya.

Baca Juga: Mencermati rencana bisnis emiten farmasi, KAEF, INAF dan PEHA di 2020

Adapun sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75/2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, tarif iuran BPJS Kesehatan mengalami kenaikan.

Sesuai aturan tersebut, iuran kepesertaan untuk kelas Mandiri I naik dua kali lipat dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 per peserta per bulan.

Iuran kelas Mandiri II naik 115% dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 per peserta per bulan.  Iuran   Kelas Mandiri III naik 64,7% dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000 per peserta per bulan.

Adapun tarif iuran peserta BPJS Kesehatan yang menerima Bantuan Iuran (PBI) dan peserta pekerja penerima upah (PPU) pejabat negara, pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), PNS, prajurit, anggota Polri, kepala desa, dan perangkat desa sudah naik sejak Agustus 2019 lalu.

Baca Juga: Dirut BPJS Kesehatan: Instrumen pengawasan di BPJS Kesehatan sangat ketat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×