kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Ditjen Pajak Ungkap Fenomena Crazy Rich, Tapi Minim Bayar Pajak


Jumat, 14 November 2025 / 11:52 WIB
Ditjen Pajak Ungkap Fenomena Crazy Rich, Tapi Minim Bayar Pajak
ILUSTRASI. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan adanya fenomena ketimpangan antara pertumbuhan kekayaan wajib pajak dan kontribusi pajaknya.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Putri Werdiningsih

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan adanya fenomena ketimpangan antara pertumbuhan kekayaan wajib pajak dan kontribusi pajaknya.

Pemeriksa Pajak Madya Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Karawang, Joko Ismuhadi, menjelaskan bahwa banyak wajib pajak yang kekayaannya meningkat tajam dari tahun ke tahun, namun tidak diikuti dengan pembayaran pajak yang sepadan.

Baca Juga: Siap-siap, Kemenkeu Mulai Lacak Shadow Economy Lewat Data Kependudukan

Ia menyebut, situasi tersebut merupakan gejala dari apa yang disebutnya sebagai shadow economy, yakni kegiatan ekonomi yang legal maupun ilegal namun tidak sepenuhnya tercatat dalam sistem perpajakan nasional.

"Banyak wajib pajak tidak punyan kontribusi signifikan untuk membayar pajak. Namun kekayaannya tumbuh," ujar Joko dalam acara yang digelar Pusdiklat Pajak, Kamis (13/11/2025).

Untuk menelusuri fenomena tersebut, Joko mengembangkan pendekatan berbasis matematika yang ia sebut sebagai mathematical accounting equation.

Baca Juga: Daya Pungut PPN Makin Melemah, Pengamat Ungkap Tantangannya

Melalui pendekatan tersebut, seharusnya jika perusahaan atau individu mengalami pertumbuhan aset, maka laba maupun pajak yang dibayarkan juga meningkat. 

Ketidaksesuaian antara keduanya menjadi sinyal awal adanya penghindaran atau penggelapan pajak.

"Jadi harusnya kalau perusahaan itu tumbuh, paling tidak profit and loss-nya juga tumbuh," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×