kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.861   3,00   0,02%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Ditjen Pajak Ungkap Fenomena Crazy Rich, Tapi Minim Bayar Pajak


Jumat, 14 November 2025 / 11:52 WIB
Ditjen Pajak Ungkap Fenomena Crazy Rich, Tapi Minim Bayar Pajak
ILUSTRASI. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan adanya fenomena ketimpangan antara pertumbuhan kekayaan wajib pajak dan kontribusi pajaknya.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Putri Werdiningsih

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan adanya fenomena ketimpangan antara pertumbuhan kekayaan wajib pajak dan kontribusi pajaknya.

Pemeriksa Pajak Madya Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Karawang, Joko Ismuhadi, menjelaskan bahwa banyak wajib pajak yang kekayaannya meningkat tajam dari tahun ke tahun, namun tidak diikuti dengan pembayaran pajak yang sepadan.

Baca Juga: Siap-siap, Kemenkeu Mulai Lacak Shadow Economy Lewat Data Kependudukan

Ia menyebut, situasi tersebut merupakan gejala dari apa yang disebutnya sebagai shadow economy, yakni kegiatan ekonomi yang legal maupun ilegal namun tidak sepenuhnya tercatat dalam sistem perpajakan nasional.

"Banyak wajib pajak tidak punyan kontribusi signifikan untuk membayar pajak. Namun kekayaannya tumbuh," ujar Joko dalam acara yang digelar Pusdiklat Pajak, Kamis (13/11/2025).

Untuk menelusuri fenomena tersebut, Joko mengembangkan pendekatan berbasis matematika yang ia sebut sebagai mathematical accounting equation.

Baca Juga: Daya Pungut PPN Makin Melemah, Pengamat Ungkap Tantangannya

Melalui pendekatan tersebut, seharusnya jika perusahaan atau individu mengalami pertumbuhan aset, maka laba maupun pajak yang dibayarkan juga meningkat. 

Ketidaksesuaian antara keduanya menjadi sinyal awal adanya penghindaran atau penggelapan pajak.

"Jadi harusnya kalau perusahaan itu tumbuh, paling tidak profit and loss-nya juga tumbuh," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×