kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.089   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.081   -49,96   -0,81%
  • KOMPAS100 796   -3,54   -0,44%
  • LQ45 607   -1,11   -0,18%
  • ISSI 210   -1,60   -0,75%
  • IDX30 342   -0,58   -0,17%
  • IDXHIDIV20 423   0,09   0,02%
  • IDX80 91   -0,32   -0,35%
  • IDXV30 115   -0,62   -0,53%
  • IDXQ30 110   0,12   0,11%

Ditanya soal redenominasi rupiah, begini jawaban calon Deputi Gubernur BI ini


Selasa, 30 November 2021 / 19:21 WIB
ILUSTRASI. Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman setuju dengan rencana redenominasi rupiah.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali menyinggung rencana penyederhanaan nilai mata uang atau redenominasi. Sederhananya, redenominasi ini adalah mengganti nilai Rp 1.000 ke Rp 1. 

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Gerindra Gus Irawan Pasaribu bertanya kepada calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman terkait hal ini. 

Dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang dihelat hari ini, Selasa (30/11), Aida menyatakan keberpihakannya pada rencana redenominasi tersebut.  “Saya setuju, Pak. Ini positif kita mengurangkan nolnya. Kemudian, ini juga jadi lebih efisien dan sesuai dengan standar internasional,” jawab Aida. 

Baca Juga: Tok! Juda Agung dan Aida Budiman kantongi restu DPR jadi calon Deputi Gubernur BI

Sebelumnya, rencana redenominasi rupiah ini sudah tertuang dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) dan sudah dimasukkan ke dalam rencana strategis Kementerian Keuangan tahun 2020 - 2024 oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. 

Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 77/PMK.01/2020 tersebut, dijelaskan dua urgensi dari pembentuka RUU tentang redenominasi ini. 

Pertama, menimbulkan efisiensi perekonomian berupa percepatan waktu transaksi, berkurangnya risiko human error, dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit rupiah.

Kedua, adalah karena pemeirntah ingin menyederhanakan sistem transaksi, akuntansi dan pelaporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena tidak banyaknya jumlah digit rupiah.

Baca Juga: Ini 5 resep calon Deputi Gubernur BI Aida Budiman untuk mendorong Indonesia maju

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×