Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Direktur Jenderal (Dirjen) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Pajak Bimo Wijayanto mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan target penerimaan pajak dalam menentukan proyeksi pencairan restitusi pajak hingga akhir 2026.
Meski demikian, Bimo tetap memastikan proses pencairan restitusi berjalan sesuai ketentuan dan memperhatikan hak wajib pajak. Untuk itu Ia belum dapat menyampaikan proyeksi pencairan restitusi hingga akhir tahun.
Menurutnya, hal tersebut perlu mempertimbangkan target penerimaan pajak yang telah ditetapkan pemerintah sekitar Rp 2.357,7 triliun serta arahan Menteri Keuangan.
Baca Juga: Era Menkeu Baru, Dirjen Pajak Bimo: Restitusi Pajak Tetap Selektif & Sesuai SOP
"Kalau proyeksi (pencairan restitusi 2026) saya belum bisa sampaikan. Tapi yang jelas, kalau misalnya kita targetkan (penerimaan pajak) Rp 2.300-an triliun, saya akan melihat begitu sesuai dengan arahan dari Bapak Menteri," ujar Bimo kepada awak media di kantor DJP, Kamis (15/10/2026).
Bimo menegaskan, dalam menjalankan kebijakan perpajakan, DJP tetap akan memenuhi ketentuan hukum dan standar operasional prosedur (SOP), termasuk memastikan hak wajib pajak terpenuhi.
Di sisi lain, DJP juga berfokus menjaga penerimaan negara agar dapat menopang belanja pemerintah dan mempertahankan keseimbangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Bimo, kebijakan perpajakan juga akan diarahkan untuk mendukung sektor-sektor prioritas pemerintah, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri padat karya, serta sektor yang berorientasi ekspor.
"Kedua, tentu sesuai dengan arahan Presiden juga dan Pak Menteri. Sekali lagi, saya sudah ngomong berkali-kali, prioritasnya UMKM, prioritasnya yang padat karya, labor intensive, prioritas berikutnya yang untuk mendorong ekspor," katanya.
Baca Juga: Soal Restitusi Pajak, Pemerintah Akan Berikan Sepanjang Penuhi Ketentuan
Lebih lanjut, Bimo menyebut proyeksi pencairan restitusi maupun penerimaan pajak masih dinamis. Karena itu, ia belum dapat memastikan angka realisasinya hingga akhir 2026.
"Jadi kalau angka sendiri akan sangat dinamis. Karena ya saya bukan ahli nujum. Jadi apa yang saya sampaikan apa adanya," tandas Bimo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














