kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.543   43,00   0,25%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Dipo: Presiden SBY belum setujui ratifikasi FCTC


Jumat, 07 Maret 2014 / 16:26 WIB
IHSG Menguat Tipis, Ini Saham-saham yang Banyak Diborong Asing, Selasa (18/10).


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku belum menerima draft apa pun terkait rencana ratifikasi Framework Convention in Tobacco Control (FCTC). Melalui Sekretaris kabinet Dipo Alam, Presiden SBY bahkan membantah telah menyetujui ratifikasi tersebut.

Dipo bilang, wajar apabila ada kekhawatiran akan rencana ratifikasi tersebut. Sebab, jika rencana ratifikasi jadi dilakukan akan mengancam industri rokok nasional. "Menurut hemat saya, industri rokok dan tembakau nasional sangat penting," ujar Dipo, Jumat (6/3) di Istana Negara.

Oleh karenanya perlu dipertimbangkan dengan seksama rencana ratifikasi tersebut. Meskipun alasannya karena kesehatan.

Memang dalam FCTC, yang notabenenya aturan yang berlaku internasional tersebut, salah satu yang diatur adalah penggunaan rokok kretek yang merugikan kesehatan. Namun, jika itu alasannya Dipo mengatakan jika semua orang tidak menginginkan rokok putih pasti akan ada pasarnya.

Oleh karena itu, Dipo meminta semu stakeholder industri tembakau dan rokok tetap tenang, jangan melakukan unjuk rasa terlebih dahulu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×