CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.625   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.510   -31,77   -0,49%
  • KOMPAS100 857   -1,60   -0,19%
  • LQ45 650   0,07   0,01%
  • ISSI 226   -1,30   -0,57%
  • IDX30 361   -0,50   -0,14%
  • IDXHIDIV20 450   0,94   0,21%
  • IDX80 98   0,06   0,06%
  • IDXV30 126   0,41   0,33%
  • IDXQ30 116   0,04   0,03%

Defisit transaksi berjalan terus jadi persoalan


Jumat, 10 Oktober 2014 / 11:33 WIB
ILUSTRASI. Hingga Kamis (27/4) atau H+4 Pasca Lebaran, masih ada sekitar 55,8% kendaraan yang belum kembali ke Jakarta melalui Tol Trans Jawa. Puncak arus balik  diprediksi Minggu dan Senin (30 April dan 1 Mei 2023).


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Sejak akhir tahun 2011 hingga saat inu, Indonesia masih saja berhadapan degan masalah neraca transaksi berjalan yang defisit atau current account deficit (CAD). Imbasnya, Indonesia membutuhkan utang luar negeri untuk membiayai defisit.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, CAD harus didanai. Yakni dengan valuta asing (valas) yang masuk,  baik dalam bentuk penanaman modal langsung, portofolio serta utang luar negeri.  "Meski begitu,  utang valas luar negeri harus dikelola, jangan sampai jadi risiko yang tidak terkendali," kata Mirza, Kamis  kemarin (9/10).

Untuk itu, perlu ada kehati-hatian atas utang luar negeri swasta. Salah satunya dengan melakukan hedging utang. Agar tak  berlebihan harus ada pengendalian  lewat penetapan rasio aset valas terhadap liabilitas.

Artinya, perusahaan yang berutang valas harus memiliki aset yang cukup untuk melunasi utangnya.  Utang valas swasta hingga Juli: US$ 156,41 miliar, naik 2,08% dibanding Juni yang sebesar US$ 153,22 miliar. Adapun total utang valas:  US$ 290,57 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×