kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.973   81,00   0,45%
  • IDX 5.884   -217,45   -3,56%
  • KOMPAS100 764   -32,00   -4,02%
  • LQ45 578   -20,26   -3,39%
  • ISSI 203   -8,31   -3,92%
  • IDX30 327   -10,75   -3,18%
  • IDXHIDIV20 402   -10,48   -2,54%
  • IDX80 87   -3,59   -3,99%
  • IDXV30 109   -2,27   -2,04%
  • IDXQ30 105   -2,81   -2,60%

Daya Saing Indonesia Turun, Lemahnya Infrastruktur dan Efisiensi Bisnis Jadi Sorotan


Kamis, 25 Juni 2026 / 05:30 WIB
Daya Saing Indonesia Turun, Lemahnya Infrastruktur dan Efisiensi Bisnis Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Posisi Indonesia dalam IMD World Competitivenes 2026 merosot delapan peringkat (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya saing Indonesia turun. Hal ini terlihat dari posisi Indonesia dalam IMD World Competitivenes 2026 merosot delapan peringkat dari posisi 40 dari 70 negara menjadi posisi 48 dari 70 negara. 

Penurunan ini menghapus tren positif yang sempat membawa Indonesia naik hingga peringkat 27 dunia pada 2024.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto menyatakan, berdasarkan hasil pemeringkatan IMD, kinerja ekonomi Indonesia justru menjadi salah satu kekuatan utama yang menopang daya saing nasional.

Baca Juga: APTI Khawatir Aturan Baru Tembakau Berdampak pada Serapan Hasil Panen Petani

"Berdasarkan metrik IMD 2026, penurunan posisi Indonesia lebih banyak didorong oleh persepsi lembaga tersebut pada aspek kelembagaan pemerintah dan efisiensi bisnis, sementara kinerja makroekonomi domestik kita masih cukup kokoh menjadi penopang," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Rabu (24/6/2026).

Myrdal menilai penurunan daya saing tersebut berpotensi mempengaruhi kinerja ekonomi nasional pada tahun ini, terutama melalui jalur investasi.

Menurutnya, posisi Indonesia yang kini berada di bawah Thailand yang menempati peringkat ke-45, serta tertinggal cukup jauh dari Malaysia di posisi ke-15 dan China di peringkat ke-12, dapat mengurangi daya tarik investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).

Baca Juga: DPR Mulai Bahas RUU Kawasan Industri, Isu Pertanahan hingga R&D Jadi Sorotan

"Sebagai sorotan esensial untuk penyusunan market update maupun pandangan makroekonomi ke depan, transmisi pelemahan daya saing ini akan merembes langsung indikator utama. Dampak yang akan terlihat adalah pengaruh pada daya tarik arus modal asing," katanya.

Kondisi tersebut juga berpotensi menghambat upaya pemerintah menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ke bawah 6% dalam waktu singkat. 

Padahal, penurunan ICOR menjadi salah satu indikator penting untuk meningkatkan efisiensi investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU

[X]
×