Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Tren pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi menggerus daya beli masyarakat. Hal ini terjadi karena kurs yang melemah dapat menaikkan harga barang impor.
Kurs rupiah terhadap dollar AS yang masih berada di kisaran Rp 17.300 membuat banyak pihak khawatir, apakah pelemahan akan terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, tren pelemahan rupiah ini dapat meningkatkan angka inflasi. Hal tersebut dapat diperberat dengan adanya kenaikan harga minyak mentah.
Selain itu, tren pelemahan rupiah ini juga dapat membuat daya beli masyarakat tergerus dan melemah.
"Kepercayaan konsumen menurun dan aktifitas ekonomi akan melamban," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Pelemahan kurs rupiah memang akan menimbulkan efek domino pada kondisi ekonomi masyarakat.
Kenaikan kurs rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi sektor manufaktur. Pasalnya, banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku, komponen, hingga barang modal dari luar negeri.
Tak hanya itu, beberapa komoditas pangan seperti gandum, kedelai, dan daging sapi juga merupakan barang impor. Pelemahan kurs akan langsung mengerek harga bahan pokok di pasar domestik.
Baca Juga: Rencana Pungutan Pajak Jalan Tol dan Orang Kaya Dibatalkan
Kurs rupiah bisa tembus Rp 18.000 di semester I-2026
Lukman memproyeksikan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bisa mencapai Rp 18.000 di akhir semester I-2026.
Dilansir dari Kontan, Lukman menyebut, dengan absennya data ekonomi penting baik dari luar maupun dalam, sentimen akan digerakkan oleh perkembangan di Timur Tengah.
Di sisi lain, peluang untuk rupiah melemah ke Rp 17.500 per dolar AS dalam waktu dekat pun tetap terbuka.
“Tanpa adanya perubahan signifikan dari sentimen domestik maupun harga minyak yang masih tinggi, rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS pada semester pertama,” tutur dia.
Sebagai bentuk intervensi, Lukman menyarankan, BI dan pemerintah untuk menaikkan suku bunga dan mengurangi defisit anggaran.
Di kondisi saat ini, investor pun disarankan untuk menghindari investasi pada mata uang Asia terlebih dulu, kecuali mata uang Yuan China.
“Untuk mata uang utama, mata uang CHF Swiss dan dolar Australia (AUD) masih menarik,” ujar dia.
Pelemahan kurs berkepanjangan dorong kenaikan harga
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan kurs rupiah saat ini masih belum memberikan dampak yang signifikan secara langsung kepada masyarakat.
Sejauh ini daya beli masyarakat juga masih relatif terjaga. Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 di level 122,9 dan Indeks Penjualan Eceran pada Februari 2026 masih tumbuh 6,5%.
"Dampaknya bagi masyarakat, belum berarti krisis langsung hari ini, tetapi tekanan ke depan jelas ada,"ujar dia.
Josua mengingatkan, pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada barang yang berkaitan dengan impor, energi, dan logistik.
Dampak ini tidak terjadi sekaligus, melainkan merambat secara bertahap ke berbagai sektor ekonomi.
Sektor yang paling rentan terhadap kenaikan biaya adalah transportasi dan logistik, jasa pertanian dan perikanan, serta industri berbasis bahan baku impor seperti kimia dasar, plastik, karet, farmasi, hingga manufaktur.
Bagi masyarakat, dampak tersebut umumnya terasa melalui kenaikan ongkos transportasi, harga pangan, barang impor, obat-obatan, barang rumah tangga, dan biaya usaha kecil yang bahan bakunya masih tergantung impor.
"Jadi, efeknya bukan semata kurs di pasar uang, tetapi biaya hidup yang naik pelan-pelan," kata Josua.
Baca Juga: Hanya 4 Golongan Masyarakat Ini yang Berhak Beli Gas Elpiji 3 Kg, Lainnya Dilarang
Tidak hanya disebabkan faktor global
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelemahan kurs rupiah tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan global dollar AS.
Pasalnya, Indeks Dollar AS (DXY) relatif bergerak stabil. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik.
"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar dia dalam keterangan tertulis.
Liza mengungkapkan, pelemahan rupiah secara domestik juga diwarnai dengan tren kenaikan harga minyak global tembus 100 dollar AS per barrel yang menambah tekanan terhadap fiskal.
"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh dia.
Menurut dia, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran dan keberlanjutan subsidi energi. Pasalnya hingga saat ini harga BBM subsidi masih belum disesuaikan.
Dari sisi moneter, Liza mengungkapkan, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah.
Ia berpandangan, kondisi tersebut mengindikasikan perlunya peran yang lebih agresif dan intensif, khususnya dalam penyediaan likuiditas dollar AS di pasar.
Tonton: Pemimpin Iran Terluka Parah! Kekuasaan Beralih ke Garda Revolusi
Pelemahan rupiah dipengaruhi permintaan valas
Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan pada rupiah terutama berasal dari tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.
Kebutuhan valas meningkat untuk aliran dana jangka pendek di pasar keuangan. Pembayaran dividen oleh pelaku usaha juga ikut mendorong permintaan.
Selain itu, ia menyoroti kondisi neraca perdagangan yang mulai tertekan. Kenaikan harga minyak global mendorong impor energi. Dampaknya, surplus perdagangan berpotensi menyempit.
"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap dia.
Ia mengungkapkan, tekanan dari arus keluar modal juga masih tinggi. Situasi ini membuat penilaian undervaluation menjadi kurang relevan dalam jangka pendek.
"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplusnya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup dia.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, pada pukul 11.13 WIB nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.295 per dollar AS atau melemah dibandingkan penutupan kemarin.
Pada penutupan Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah ditutup melemah 0,61 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dollar AS.
Kemarin pagi, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.312 per dollar AS.
(Agustinus Rangga Respati, Aprillia Ika)
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/04/24/114607226/dampak-rupiah-loyo-siap-siap-biaya-dapur-makin-mencekik?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Harga Pangan
- inflasi
- Neraca Perdagangan
- kurs rupiah
- defisit anggaran
- Indeks Keyakinan Konsumen
- subsidi energi
- daya beli masyarakat
- sektor manufaktur
- Rupiah Melemah
- Harga Minyak Global
- Suku Bunga BI
- proyeksi rupiah 2026
- Investasi Mata Uang
- harga barang impor
- Arus Keluar Modal
- dampak rupiah loyo
- biaya hidup naik
- Indeks Penjualan Eceran
- faktor domestik rupiah
- likuiditas dolar AS
- permintaan valas













