Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelemahan kurs rupiah tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan global dollar AS.
Pasalnya, Indeks Dollar AS (DXY) relatif bergerak stabil. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik.
"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar dia dalam keterangan tertulis.
Liza mengungkapkan, pelemahan rupiah secara domestik juga diwarnai dengan tren kenaikan harga minyak global tembus 100 dollar AS per barrel yang menambah tekanan terhadap fiskal.
"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh dia.
Menurut dia, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran dan keberlanjutan subsidi energi. Pasalnya hingga saat ini harga BBM subsidi masih belum disesuaikan.
Dari sisi moneter, Liza mengungkapkan, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah.
Ia berpandangan, kondisi tersebut mengindikasikan perlunya peran yang lebih agresif dan intensif, khususnya dalam penyediaan likuiditas dollar AS di pasar.
Tonton: Pemimpin Iran Terluka Parah! Kekuasaan Beralih ke Garda Revolusi
Pelemahan rupiah dipengaruhi permintaan valas
Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan pada rupiah terutama berasal dari tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.
Kebutuhan valas meningkat untuk aliran dana jangka pendek di pasar keuangan. Pembayaran dividen oleh pelaku usaha juga ikut mendorong permintaan.
Selain itu, ia menyoroti kondisi neraca perdagangan yang mulai tertekan. Kenaikan harga minyak global mendorong impor energi. Dampaknya, surplus perdagangan berpotensi menyempit.
"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap dia.
Ia mengungkapkan, tekanan dari arus keluar modal juga masih tinggi. Situasi ini membuat penilaian undervaluation menjadi kurang relevan dalam jangka pendek.
"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplusnya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup dia.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, pada pukul 11.13 WIB nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.295 per dollar AS atau melemah dibandingkan penutupan kemarin.
Pada penutupan Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah ditutup melemah 0,61 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dollar AS.
Kemarin pagi, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.312 per dollar AS.
(Agustinus Rangga Respati, Aprillia Ika)
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/04/24/114607226/dampak-rupiah-loyo-siap-siap-biaya-dapur-makin-mencekik?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Harga Pangan
- inflasi
- Neraca Perdagangan
- kurs rupiah
- defisit anggaran
- Indeks Keyakinan Konsumen
- subsidi energi
- daya beli masyarakat
- sektor manufaktur
- Rupiah Melemah
- Harga Minyak Global
- Suku Bunga BI
- proyeksi rupiah 2026
- Investasi Mata Uang
- harga barang impor
- Arus Keluar Modal
- dampak rupiah loyo
- biaya hidup naik
- Indeks Penjualan Eceran
- faktor domestik rupiah
- likuiditas dolar AS
- permintaan valas













