kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.825.000   20.000   0,71%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Dampak Rupiah Keok, Siap-siap Bayar Lebih Mahal untuk Biaya Dapur


Sabtu, 25 April 2026 / 06:09 WIB
Dampak Rupiah Keok, Siap-siap Bayar Lebih Mahal untuk Biaya Dapur


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelemahan kurs rupiah tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan global dollar AS.

Pasalnya, Indeks Dollar AS (DXY) relatif bergerak stabil. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik.

"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar dia dalam keterangan tertulis.

Liza mengungkapkan, pelemahan rupiah secara domestik juga diwarnai dengan tren kenaikan harga minyak global tembus 100 dollar AS per barrel yang menambah tekanan terhadap fiskal.

"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh dia.

Menurut dia, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran dan keberlanjutan subsidi energi. Pasalnya hingga saat ini harga BBM subsidi masih belum disesuaikan.

Dari sisi moneter, Liza mengungkapkan, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah.

Ia berpandangan, kondisi tersebut mengindikasikan perlunya peran yang lebih agresif dan intensif, khususnya dalam penyediaan likuiditas dollar AS di pasar.

Tonton: Pemimpin Iran Terluka Parah! Kekuasaan Beralih ke Garda Revolusi

Pelemahan rupiah dipengaruhi permintaan valas

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan pada rupiah terutama berasal dari tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.

Kebutuhan valas meningkat untuk aliran dana jangka pendek di pasar keuangan. Pembayaran dividen oleh pelaku usaha juga ikut mendorong permintaan.

Selain itu, ia menyoroti kondisi neraca perdagangan yang mulai tertekan. Kenaikan harga minyak global mendorong impor energi. Dampaknya, surplus perdagangan berpotensi menyempit.

"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap dia.

Ia mengungkapkan, tekanan dari arus keluar modal juga masih tinggi. Situasi ini membuat penilaian undervaluation menjadi kurang relevan dalam jangka pendek.

"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplusnya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup dia.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, pada pukul 11.13 WIB nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.295 per dollar AS atau melemah dibandingkan penutupan kemarin.

Pada penutupan Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup melemah 0,61 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dollar AS.

Kemarin pagi, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.312 per dollar AS.

(Agustinus Rangga Respati, Aprillia Ika)

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/04/24/114607226/dampak-rupiah-loyo-siap-siap-biaya-dapur-makin-mencekik?page=all#page1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×