Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mengindikasikan terbentuknya titik keseimbangan (new equilibrium) baru dalam jangka pendek hingga menengah.
Dalam kajian CORE Indonesia edisi Juli 2026, lembaga tersebut menyebut pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir tidak lagi bersifat sementara. Setelah sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni, rupiah memang berangsur menguat dan ditutup di level Rp 17.875 per dolar AS pada akhir bulan. Namun, pergerakannya kembali mendekati level Rp 18.000 pada awal Juli.
Menurut CORE, kondisi tersebut menunjukkan kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS kini menjadi titik keseimbangan baru bagi rupiah dalam jangka pendek hingga menengah.
Baca Juga: Depresiasi Rupiah Berdampak Ganda bagi APBN, Pemerintah Perlu Evaluasi Asumsi Makro
Sejalan dengan itu, tekanan di pasar keuangan domestik juga masih berlanjut. Sepanjang Juni 2026, transaksi reguler investor asing di pasar saham mencatatkan net sell sebesar Rp 23,19 triliun. Nilai ini meningkat Rp 3,75 triliun dibandingkan bulan sebelumnya sekaligus menjadi aksi jual bulanan terbesar sepanjang tahun ini.
CORE menilai derasnya arus keluar modal asing tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi domestik. Kekhawatiran itu tercermin dari memburuknya sejumlah indikator ekonomi, mulai dari neraca perdagangan yang kembali mencatatkan defisit, aktivitas manufaktur yang terkontraksi sebagaimana tercermin pada Purchasing Managers' Index (PMI), hingga inflasi yang kembali meningkat.
Meski demikian, tekanan di pasar saham relatif diimbangi oleh aliran dana asing ke instrumen pendapatan tetap. Investor asing membukukan net buy Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 22,42 triliun serta menambah kepemilikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 21,62 triliun hingga pertengahan Juni.
Namun, menurut CORE, aliran dana tersebut belum mampu membendung pelemahan rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada pekan pertama Juni. Meski kemudian ditutup di level Rp 17.875 per dolar AS pada akhir bulan, secara bulanan rupiah masih bergerak relatif datar dibandingkan posisi akhir Mei yang berada di level Rp 17.865 per dolar AS.
Baca Juga: S&P Masih Soroti Kesehatan Fiskal Indonesia Meski Rating BBB Bertahan
CORE menilai stabilisasi rupiah tidak lepas dari respons agresif Bank Indonesia (BI). Sepanjang Juni 2026, BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin (bps), termasuk kenaikan di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.
Langkah tersebut diperkuat dengan kenaikan suku bunga SRBI di seluruh tenor, insentif penurunan biaya hedging swap bagi investor asing, perluasan operasi moneter valas, hingga penurunan batas transaksi penukaran valas tanpa underlying menjadi US$ 10.000 per pelaku per bulan.
Meski begitu, CORE mengingatkan bahwa stabilisasi tersebut masih rapuh dan diperoleh dengan biaya yang tidak kecil.
"Ketahanan rupiah kini sangat bertumpu pada strategi imbal hasil tinggi melalui SRBI dan SBN, yang pada gilirannya akan meningkatkan beban moneter dan cost of fund dalam perekonomian," tulis CORE dalam laporannya, dikutip Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Dampak Rating BBB dari S&P Dinilai Terbatas Ke Rupiah dan Pasar Saham
CORE menambahkan, berlanjutnya arus keluar investor asing dari pasar saham menunjukkan persoalan kepercayaan yang bersifat struktural sehingga tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan suku bunga.
Karena itu, selain menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan, pemerintah juga perlu memperkuat fundamental ekonomi melalui perbaikan struktur neraca pembayaran serta meningkatkan kredibilitas kebijakan di mata investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














