kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45872,45   -13,73   -1.55%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

CIPS: Harga Beras Saat Pemilu Lebih Mahal 15,41% Dari Februari 2022


Selasa, 20 Februari 2024 / 15:17 WIB
CIPS: Harga Beras Saat Pemilu Lebih Mahal 15,41% Dari Februari 2022
Seorang pekerja merapikan beras program Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan (SPHP) di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (19/2/2024). ANTARA FOTO/ Erlangga Bregas Prakoso/aww.


Reporter: Markus Sumartomdjon | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga beras tengah menjadi persoalan. Kenaikan harga beras dan komoditas pangan lain umumnya sudah terjadi sejak September 2023. Kala itu harga beras Rp12.685  per kilogram (kg). Lantas pada Februari 2024 naik hingga harga Rp13.187 per kg.

“Kenaikan harga beras salah satunya dikarenakan oleh minimnya ketersediaan yang diakibatkan oleh musim panen, dan cuaca. Di tengah fluktuasi harga yang kian meningkat, saat ini stabilisasi harga harus menjadi fokus utama untuk menghindari peningkatan inflasi” ujar Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi, dalam keterangan, Selasa (20/2).

Menurut panel harga PIHPS pada 14 Februari, harga beras medium II naik sebesar 6,25% atau Rp 900/kg menjadi Rp 14.250/kg jika dibandingkan dengan harga Januari 2024.

Menurut data yang dihimpun oleh Center for Indonesian Policy Studies dalam Food Monitor, harga beras pada hari pemilihan umum kemarin lebih mahal sebesar 15,41% dari harga rata-rata pada bulan Februari tahun lalu.

Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga beras juga akan berdampak pada peningkatan tingkat inflasi, mengingat beras merupakan salah satu komoditas pokok yang menyumbang 3 persen pada Indeks Harga Konsumen (IHK) yang digunakan untuk menghitung inflasi.

Beras sudah sejak lama berkontribusi pada angka inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2023 menunjukkan beras sebagai komoditas penyumbang utama andil inflasi.

Beras memiliki andil sebesar 0,18% dalam inflasi month to month, dan 0,55% dalam inflasi year on year. Komoditas yang satu ini kembali mengalami inflasi sebesar 0,64% (month-to-month/mtm) dengan andil inflasi sebesar 0,03% pada Januari 2024.

Sementara itu, daya beli masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan rendah, akan semakin menurun. Pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor diperkirakan juga menambah berat beban pengeluaran mereka.

Berbagai faktor berkontribusi pada kenaikan harga beras. Salah satunya adalah kondisi cuaca saat ini yang mengakibatkan gagal panen di beberapa daerah penghasil beras, seperti Cianjur.

El-Nino yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan sehingga berkurangnya pasokan atau suplai beras. Selain itu, terdapat juga faktor permintaan yang meningkat di tengah masa kampanye, beras kerap masuk dalam program tebus murah paket sembako.

Pemerintah melalui Bulog direncanakan akan mengimpor 200.000 ton beras yang didatangkan dari Thailand dan Tiongkok hingga Maret 2024 untuk menjamin stok pasar. Rencana impor beras ini diharapkan dapat efektif menstabilkan harga, apalagi menghadapi bulan Ramadan yang akan dimulai pada pertengahan Maret.

Meskipun saat ini pemerintah telah mengumumkan berbagai langkah untuk mengendalikan harga beras. Namun kebijakan yang dapat mengantisipasi permasalahan ketersediaan dan harga dalam jangka panjang selayaknya menjadi fokus utama.

Peningkatan produktivitas melalui penggunaan input bermutu, perbaikan sarana dan prasarana pertanian, hingga kebijakan yang lebih terbuka pada perdagangan internasional sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan menjaga keterjangkauan masyarakat kepada harga pangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×