kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

China Jadi Sumber Impor Terbesar RI, Defisit Perdagangan Tembus US$ 10 Miliar


Kamis, 02 Juli 2026 / 04:50 WIB
China Jadi Sumber Impor Terbesar RI, Defisit Perdagangan Tembus US$ 10 Miliar
ILUSTRASI. Perkembangan Ekspor dan Impor di Maluku Utara (ANTARA FOTO/Andri Saputra)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketergantungan Indonesia terhadap barang impor dari China masih sangat besar. 

Di tengah lonjakan impor nasional sepanjang Januari–Mei 2026, China tetap menjadi negara asal impor terbesar sekaligus penyumbang defisit perdagangan terdalam bagi Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor Indonesia selama Januari–Mei 2026 mencapai US$ 111,33 miliar, melonjak 15,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Kenaikan impor terutama berasal dari China, Australia, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa.

Baca Juga: Ekonom Prediksi Defisit Neraca Dagang Berlanjut, Waspada Efeknya ke Ekonomi Domestik

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, peningkatan impor terbesar berasal dari sejumlah mitra dagang utama, terutama China.

"Peningkatan nilai impor terutama berasal dari China, Australia, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa, sementara impor dari Jepang mengalami penurunan," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Sepanjang lima bulan pertama tahun ini, impor Indonesia dari China mencapai US$ 39,27 miliar, naik signifikan dari US$ 33,12 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut jauh melampaui impor dari negara mitra dagang lainnya.

Impor dari Australia juga meningkat menjadi US$ 5,02 miliar dari sebelumnya US$ 3,42 miliar. Sementara impor dari kawasan ASEAN naik menjadi US$ 13,97 miliar dari US$ 13,36 miliar dan dari Uni Eropa mencapai US$ 6,19 miliar.

Sebaliknya, impor dari Jepang turun menjadi US$ 5,17 miliar dari US$ 6,31 miliar.

Besarnya arus barang dari China turut tercermin pada neraca perdagangan Indonesia. 

Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Diprediksi Hanya Sementara, Ekonom: Ada Peluang Kembali Surplus

BPS mencatat China masih menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar dengan nilai mencapai US$ 10,17 miliar sepanjang Januari–Mei 2026.

Defisit tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang mencatat minus US$ 10,73 miliar.

Tingginya impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik menjadi faktor utama yang menekan neraca dagang dengan negara tersebut.

Selain China, Indonesia juga mencatat defisit perdagangan dengan Australia sebesar US$ 3,99 miliar dan Singapura US$ 3,83 miliar.

Meski demikian, secara keseluruhan Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 4,03 miliar hingga Mei 2026. 

Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencatat surplus US$ 16,31 miliar, meskipun sebagian tergerus oleh defisit sektor migas sebesar US$ 12,28 miliar.

Baca Juga: Ekonom Prediksi Tekanan Inflasi Lebih Tinggi pada Semester II 2026, Ini Pemicunya

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 7,03 miliar. Posisi berikutnya ditempati India dengan surplus US$ 5,29 miliar dan Filipina sebesar US$ 3,58 miliar.

Pada perdagangan nonmigas, surplus terbesar dengan AS mencapai US$ 8,47 miliar yang didorong ekspor mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian rajut. Surplus dengan India mencapai US$ 5,34 miliar, sedangkan dengan Filipina sebesar US$ 3,42 miliar.

Dari sisi komoditas, penyumbang surplus nonmigas terbesar berasal dari kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15) senilai US$ 13,92 miliar. Disusul bahan bakar mineral (HS27) sebesar US$ 10,88 miliar dan besi serta baja (HS72) sebesar US$ 7,09 miliar.

Sebaliknya, komoditas yang paling membebani neraca perdagangan nonmigas adalah mesin dan peralatan mekanik (HS84) dengan defisit US$ 12,74 miliar.

Selanjutnya mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) mencatat defisit US$ 6,23 miliar serta plastik dan barang dari plastik (HS39) sebesar US$ 3,74 miliar.

Baca Juga: BPS: Mayoritas Jumlah Penumpang Moda Transportasi Turun pada Mei 2026

Secara total, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar atau tumbuh 3,02% secara tahunan.

Namun pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi membuat surplus perdagangan menyusut, meski masih bertahan di level US$ 4,03 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×