kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   13.000   0,51%
  • USD/IDR 18.189   15,00   0,08%
  • IDX 4.920   15,48   0,32%
  • KOMPAS100 632   2,75   0,44%
  • LQ45 501   3,97   0,80%
  • ISSI 163   -0,60   -0,36%
  • IDX30 283   2,68   0,96%
  • IDXHIDIV20 382   4,30   1,14%
  • IDX80 73   0,29   0,40%
  • IDXV30 106   0,87   0,82%
  • IDXQ30 95   1,13   1,20%

Cadangan Devisa Turun, BI Hadapi Tekanan Global dan Mahal Biaya Stabilkan Rupiah


Kamis, 09 April 2026 / 09:23 WIB
Cadangan Devisa Turun, BI Hadapi Tekanan Global dan Mahal Biaya Stabilkan Rupiah
ILUSTRASI. Petugas mencatat uang asing dolar Amerika Serikat (US$) di Pooling Center, Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia kembali tergerus pada Maret 2026 di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa turun menjadi US$ 148,2 miliar, dari sebelumnya US$ 151,9 miliar pada Februari 2026.

Penurunan ini mencerminkan kombinasi arus dana masuk dan keluar. Di satu sisi, ada pemasukan dari penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. 

Namun di sisi lain, devisa terkuras untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI di pasar valas guna menahan pelemahan rupiah.

Baca Juga: Perang Berkecamuk, Cadangan Devisa Terendah Dalam 20 Bulan Terakhir

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut kondisi ini masih dalam batas aman. "Cadangan devisa masih memadai untuk mendukung ketahanan eksternal," ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Secara rasio, posisi cadangan devisa setara 6 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih jauh di atas standar internasional sekitar 3 bulan impor, sehingga dinilai cukup kuat meredam guncangan eksternal.

Meski begitu, penurunan cadangan devisa tetap menjadi sinyal meningkatnya tekanan eksternal, terutama di tengah volatilitas pasar global dan pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai penyusutan cadangan devisa tidak hanya disebabkan intervensi BI, tetapi peran intervensi tetap signifikan dalam menjaga stabilitas. 

"Penyangga eksternal memang melemah, tapi belum masuk kategori genting," ujarnya.

Baca Juga: Cadangan Devisa Menyusut di Tengah Intervensi BI, Ini Penyebabnya

Ia menilai strategi BI sudah berada di jalur yang tepat, dengan kombinasi kebijakan seperti penahanan suku bunga, intervensi di pasar spot dan forward, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. 

Namun, Josua mengingatkan biaya menjaga rupiah bisa meningkat jika terlalu bergantung pada cadangan devisa.

Menurutnya, ke depan BI perlu lebih mengandalkan instrumen pasar dan pengelolaan ekspektasi, termasuk memperkuat lindung nilai, memperdalam pasar valas, serta mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×