kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Cadangan Devisa Naik, Ekonom Ingatkan Tekanan Rupiah Belum Sepenuhnya Reda


Selasa, 07 Juli 2026 / 19:00 WIB
Cadangan Devisa Naik, Ekonom Ingatkan Tekanan Rupiah Belum Sepenuhnya Reda
ILUSTRASI. Cadangan devisa Indonesia naik tipis di Juni, namun ekonom mengingatkan ini hanya stabilisasi sementara. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai kenaikan tipis posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 sebesar US$ 145,6 miliar tetap harus disikapi dengan hati-hati. Menurutnya, kenaikan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap cadangan devisa telah berakhir.

"Posisi cadangan devisa Juni perlu dibaca positif, tetapi jangan berlebihan. Cadangan devisa naik menjadi US$ 145,6 miliar dari US$ 144,9 miliar pada Mei, atau naik sekitar US$ 700 juta. Jadi, ini merupakan kenaikan pertama setelah lima bulan turun berturut-turut," ujar Josua kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).

Namun, Josua mengingatkan bahwa posisi cadangan devisa tersebut masih lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai US$ 146,2 miliar dan jauh di bawah posisi Maret 2026 sebesar US$ 148,2 miliar.

Menurutnya, kenaikan tipis cadangan devisa per Juni menunjukkan perbaikan jangka pendek, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap cadangan devisa sudah selesai.

Josua menjelaskan, kenaikan cadangan devisa pada Juni kemungkinan berasal dari sejumlah faktor, mulai dari penerimaan pajak dan jasa pemerintah, aliran masuk modal asing ke instrumen rupiah, hingga penerbitan obligasi global Danantara.

"Cadangan devisa Juni naik sekitar US$ 0,7 miliar, antara lain ditopang penerimaan pemerintah, aliran masuk ke SBN dan SRBI, serta penerbitan obligasi global Danantara sebesar US$ 1,5 miliar," jelasnya.

Baca Juga: Purbaya Optimistis Penempatan SAL Rp400 Triliun di Himbara Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Josua, kenaikan cadangan devisa kali ini tidak hanya disebabkan oleh kinerja neraca perdagangan, tetapi juga karena membaiknya transaksi keuangan. Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) turut berperan dalam memperkuat cadangan devisa.

"Kenaikan BI Rate jelas ikut berperan, tetapi jalurnya lebih banyak melalui aliran masuk portofolio, terutama SRBI dan sebagian SBN," ungkapnya.

Menurut Josua, setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dan menjaga imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap menarik, investor asing kembali masuk ke instrumen berbasis rupiah. Terlihat dari data aliran portofolio yang menunjukkan pada Juni terjadi aliran masuk ke SBN dan SRBI, sementara pasar saham masih mencatat aliran keluar.

Hal ini menunjukkan bahwa minat investor asing lebih tertarik pada instrumen berimbal hasil tinggi dan berjangka relatif pendek, bukan karena keyakinan penuh terhadap pasar saham atau ekonomi riil. Karena itu, Josua melihat pembalikan posisi cadangan devisa pada Juni masih bersifat sementara.

"Saya melihat pembalikan cadangan devisa Juni masih lebih bersifat stabilisasi sementara daripada awal tren pemulihan jangka panjang," katanya.

Josua menilai cadangan devisa baru dapat pulih secara berkelanjutan apabila tiga faktor terjadi secara bersamaan. Pertama, neraca perdagangan kembali mencatat surplus secara konsisten. Kedua, aliran modal asing tidak hanya masuk ke SRBI, tetapi juga ke SBN dan investasi langsung. Ketiga, kebutuhan intervensi BI menurun karena rupiah lebih stabil.

"Jika aliran masuk masih terlalu bergantung pada SRBI, maka cadangan devisa memang bisa tertahan, tetapi risikonya tetap tinggi karena dana tersebut mudah keluar saat sentimen global berubah," ujarnya.

Baca Juga: Di Balik APBN 2026 yang Tampak Membaik, Ekonom Temukan Alarm Fiskal

NPI Kuartal II 2026 Diprediksi Masih Tertekan

Dari sisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2026, Josua memperkirakan tekanan masih cukup besar dan kemungkinan lebih lemah dibandingkan kondisi normal.

Menurutnya, transaksi berjalan berpotensi melemah karena neraca perdagangan sempat mencatat defisit pada Mei setelah lebih dari enam tahun berada dalam posisi surplus.

"Impor didorong kebutuhan bahan baku, barang modal, dan migas, sementara ekspor tertekan oleh permintaan global yang lemah, harga komoditas yang tidak sekuat sebelumnya, serta perlambatan Tiongkok," jelasnya.

Meski demikian, tekanan transaksi berjalan pada kuartal II sebagian tertahan oleh perbaikan transaksi modal dan finansial pada Juni.

"Aliran masuk ke SBN dan SRBI, penerbitan obligasi global Danantara, serta stabilisasi rupiah setelah kenaikan BI Rate membantu menahan pelemahan cadangan devisa," kata Josua.

Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan NPI kuartal II 2026 kemungkinan tidak seburuk kekhawatiran sebelumnya, tetapi tetap rapuh.

"Skenario saya, NPI kuartal II cenderung mendekati seimbang atau defisit tipis, tergantung seberapa besar intervensi BI dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama periode tersebut," tuturnya.

Cadangan Devisa Masih Jadi Bantalan Rupiah

Josua menilai posisi cadangan devisa sebesar US$ 145,6 miliar masih sangat memadai sebagai bantalan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Level ini masih setara sekitar 5,5 bulan impor atau sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Jadi, BI belum kehabisan amunisi," ujarnya.

Baca Juga: Kasus Korupsi Pasokan Batubara PLTU, Polri Telusuri Peran Dua Perusahaan

Namun, ia mengingatkan bahwa cadangan devisa tetap perlu dijaga karena tekanan terhadap rupiah masih belum hilang, terutama jika dolar AS kembali menguat, imbal hasil obligasi Amerika Serikat naik, harga minyak berbalik naik, atau investor asing kembali keluar dari pasar negara berkembang.

Meski begitu, kenaikan cadangan devisa dinilai tetap memberikan dampak positif bagi perekonomian, meski masih terbatas.

"Kenaikan cadangan devisa memberi sinyal bahwa tekanan eksternal mulai mereda, memperkuat kepercayaan terhadap rupiah, dan membantu menahan inflasi impor," jelasnya.

Namun, ia mengingatkan terdapat biaya ekonomi apabila stabilitas cadangan devisa terlalu bergantung pada suku bunga tinggi dan imbal hasil SRBI yang menarik.

"Biaya ekonominya bisa muncul dalam bentuk bunga kredit yang lebih mahal, investasi yang lebih hati-hati, dan konsumsi yang tertahan," ujar Josua.

Ia menambahkan, kebijakan BI menaikkan BI Rate ke 5,75% dan memperkuat intervensi valas memang diperlukan untuk menjaga rupiah, tetapi tetap perlu diseimbangkan dengan dukungan terhadap kredit sektor riil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×