Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Kondisi tersebut menunjukkan biaya menjaga stabilitas rupiah semakin besar sehingga tidak bisa hanya mengandalkan intervensi BI.
Pemerintah dinilai perlu memperkuat kepercayaan investor melalui kepastian fiskal, pengendalian risiko subsidi energi, reformasi pasar keuangan, hingga penguatan ekspor dan pengurangan ketergantungan impor energi.
Pandangan serupa disampaikan Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto. Ia menilai penurunan cadangan devisa dipicu arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi domestik akibat kondisi global yang kurang kondusif.
Selain itu, BI juga dinilai aktif melakukan intervensi di berbagai instrumen pasar keuangan, mulai dari pasar spot rupiah, domestic non-deliverable forward (DNDF), swap, hingga pasar obligasi pemerintah sekunder untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Baca Juga: Rupiah Makin Lesu, Begini Skenario Pergerakannya Hingga Akhir Tahun 2026
Myrdal juga melihat adanya kenaikan permintaan valas musiman, termasuk untuk distribusi dividen emiten kepada investor asing serta kebutuhan pembayaran haji. Di saat bersamaan, kebutuhan impor, terutama impor BBM, juga dinilai berpotensi meningkat.
Meski begitu, ia menilai pelemahan rupiah sempat menekan impor sehingga surplus perdagangan tetap terjaga dan membantu menopang ketahanan eksternal Indonesia.
"Kalau ekonomi Indonesia tetap solid dan berdaya tahan tinggi, investor asing bisa kembali masuk dan itu berpotensi mendorong cadangan devisa naik lagi," ujar Myrdal.
Maybank Indonesia memperkirakan posisi cadangan devisa Indonesia hingga akhir 2026 masih bisa meningkat ke kisaran US$ 154,8 miliar, terutama jika surplus perdagangan tetap kuat dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













