kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Bukan Moneter, Pelemahan Rupiah Lebih Dipicu Persepsi Risiko Kebijakan Fiskal?


Rabu, 21 Januari 2026 / 21:03 WIB
Bukan Moneter, Pelemahan Rupiah Lebih Dipicu Persepsi Risiko Kebijakan Fiskal?
ILUSTRASI. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede (KONTAN/Aldehead Marinda)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini selama Januari 2026, lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi atau ekspektasi pasar terhadap risiko kebijakan fiskal pemerintah, bukan semata-mata karena kebijakan moneter atau keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI).

"Pelemahan rupiah yang dipengaruhi persepsi pasar biasanya bukan sekadar puas atau tidak puas terhadap level suku bunga, melainkan penilaian pasar atas risiko yang lebih luas, seperti arah defisit fiskal, kualitas koordinasi kebijakan, dan keyakinan bahwa kebijakan moneter tetap kredibel dan independen," ungkap Josua.

Dari sisi kebijakan moneter, BI menurutnya sudah melakukan langkah optimal untuk menjaga stabilitas rupiah. Terlihat dari keputusan BI yang menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Januari 2026, yang pada dasarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.

Baca Juga: BI Dinilai Sudah All Out Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global

Kebijakan tersebut mencerminkan fokus BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sambil tetap mengendalikan inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di luar suku bunga, BI juga menunjukkan paket kebijakan stabilisasi yang cukup lengkap melalui intervensi di pasar valas, pengelolaan likuiditas dan operasi moneter, serta langkah untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

Menurutnya, persepsi pasar tersebut lebih mencakup penilaian risiko yang lebih luas, terutama terkait arah defisit fiskal, kualitas koordinasi kebijakan, serta keyakinan bahwa kebijakan moneter tetap kredibel dan independen.

“Selama faktor persepsi risiko itu masih kuat, pasar akan tetap meminta kompensasi risiko yang lebih besar. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah belum otomatis hilang meskipun keputusan suku bunga sudah sesuai perkiraan,” ujar Josua.

Baca Juga: Tekanan Global Dorong Rupiah Melemah, BI Tegaskan Siap Bertindak Agresif

Ia menambahkan, kebijakan yang umumnya diharapkan pasar pada sisi moneter adalah bauran kebijakan yang mampu menjaga stabilitas rupiah secara meyakinkan dan konsisten.

BI sendiri telah melakukan sejumlah langkah kebijakan dan meyakinkan pasar.

Pertama, pesan kebijakan yang jelas bahwa BI siap menjaga stabilitas ketika tekanan meningkat, termasuk bersikap lebih berhati-hati terhadap rencana penurunan suku bunga lanjutan hingga kondisi global dan sentimen domestik membaik.

Kedua, stabilisasi pasar valas yang kuat dan terukur untuk mencegah gejolak berlebihan, sekaligus menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik agar arus dana tidak terus keluar. 

Ketiga, komunikasi kebijakan yang tegas dan mudah dipahami guna menekan ketidakpastian. 

Baca Juga: Gubernur BI Beberkan Penyebab Rupiah Anjlok Sepanjang Januari 2026

Keempat, sinergi yang solid dengan pemerintah dalam menjaga kredibilitas kebijakan makro, khususnya disiplin fiskal dan pembiayaan kebijakan agar tidak menimbulkan keraguan pasar.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×