Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Josua menegaskan, rupiah tidak selalu langsung menguat hanya karena kebijakan sesuai harapan pasar. Nilai tukar bergerak mengikuti perubahan ekspektasi, bukan sekadar level kebijakan saat ini.
"Jika keputusan BI sudah diperkirakan pasar, dampaknya biasanya sudah tercermin sebelumnya, sehingga yang terjadi setelah pengumuman lebih banyak ditentukan oleh apakah ada kejutan baru, arah arus dana, dan kondisi global," ungkap Josua.
Menurutnya, BI juga menjelaskan bahwa tekanan rupiah pada periode ini dipengaruhi oleh keluarnya dana asing di tengah meningkatnya ketidakpastian global, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing dari perbankan dan korporasi seiring berjalannya aktivitas ekonomi.
"Dalam konteks seperti itu, ukuran keberhasilan kebijakan sering kali bukan rupiah harus segera menguat tajam, melainkan volatilitas lebih terkendali dan ekspektasi tidak memburuk," tambah Josua.
Baca Juga: BI Akan Lakukan Intervensi Skala Besar dan Gunakan Cadev untuk Pulihkan Rupiah
Ke depan, rupiah dinilai akan lebih mudah menguat apabila terjadi perbaikan nyata pada sentimen risiko global dan keyakinan domestik, terutama ketika persepsi pasar terhadap risiko fiskal dan kredibilitas kebijakan mereda sehingga arus dana kembali masuk dan tekanan permintaan valas berkurang.
Selanjutnya: Metrodata (MTDL) Gandeng Alibaba Cloud, Dorong Adopsi Cloud di Indonesia
Menarik Dibaca: 5 Khasiat Minum Jus Apel untuk Kesehatan Tubuh yang Luar Biasa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













