Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memperluas indikasi penggunaan vaksin campak untuk kelompok dewasa berisiko.
Keputusan ini sekaligus membuka jalan bagi industri farmasi, khususnya produsen dalam negeri, untuk memperluas pasar sekaligus menopang pengendalian wabah.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan otoritasnya telah memberikan persetujuan perluasan indikasi vaksin campak produksi PT Bio Farma dari sebelumnya hanya untuk anak menjadi dapat digunakan pada orang dewasa berisiko tinggi.
Baca Juga: Apindo: Judi Online hingga Barang Ilegal Jadi Penggerus Penerimaan Pajak
“Badan POM secara resmi menetapkan persetujuan penggunaan vaksin campak Bio Farma untuk kelompok usia dewasa yang berisiko terinfeksi campak per 7 April 2026,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor BPOM RI, Rabu (8/4/2026).
Selain Bio Farma, BPOM juga sebelumnya telah mengizinkan penggunaan vaksin campak untuk dewasa dari produsen global seperti GlaxoSmithKline (GSK) dan Merck Sharp Dohme (MSD). Produk yang beredar antara lain vaksin kombinasi Measles-Mumps-Rubella (MMR) seperti Priorix, MMR II, hingga Priorix Tetra.
Langkah BPOM tidak lepas dari lonjakan kasus campak yang sempat memicu kejadian luar biasa (KLB) di berbagai daerah. Hingga pekan ke-11 tahun 2026, tercatat 58 KLB di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi dengan total 2.740 kasus.
Meski tren menurun, kasus mingguan turun 93% dari puncak 2.220 menjadi 146 kasus. Pemerintah menilai risiko penularan masih tinggi, terutama pada kelompok rentan.
“Perluasan ini adalah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional,” kata Taruna.
Sementara itu, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, menegaskan vaksinasi dewasa tidak bersifat wajib untuk umum, tetapi diprioritaskan bagi kelompok berisiko tinggi, terutama tenaga kesehatan.
Lucia menyebut sedikitnya 39.212 tenaga medis dan 2,22 juta tenaga kesehatan di 14 provinsi dengan kasus tinggi menjadi target utama. Selain itu, sekitar 28.321 dokter umum dan dokter gigi di seluruh Indonesia juga masuk sasaran.
“Kelompok ini berisiko tinggi tertular dan menularkan, sehingga perlu perlindungan tambahan,” ujarnya.
Selain tenaga kesehatan, kelompok dengan komorbid seperti diabetes, penyakit autoimun, hingga lansia juga masuk kategori prioritas.
Baca Juga: Penerimaan Pajak 2026 Diprediksi Turun, Kelas Menengah Tertekan Jadi Pemicu
Dari sisi pasokan, Bio Farma menjadi tumpuan utama produksi dalam negeri. Sebelumnya, vaksin campak produksi perusahaan pelat merah ini belum diprioritaskan untuk dewasa, meski kapasitas produksi tersedia.
Ke depannya, perluasan izin ini diharapkan meningkatkan utilisasi produksi domestik sekaligus menekan ketergantungan impor vaksin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













