kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

BKPM kejar Rp 594,8 M untuk investasi perfilman


Jumat, 22 Juli 2016 / 11:27 WIB
BKPM kejar Rp 594,8 M untuk investasi perfilman


Reporter: Dede Suprayitno | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Kesempatan investor asing menanamkan modalnya di Indonesia semakin besar. Hal itu didukung melalui regulasi yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 44 tahun 2016. Peraturan tersebut dinilai dapat menjadi stimulus bagi pelaku industri perfilman dalam meningkatkan kualitas dan mengembangkan usahanya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyampaikan, pihaknya telah menerima investor asing yang berminat menanamkan modal di sektor perfilman. Terutama di sektor eksibisi dalam hal ini bioskop.

”Tercatat, yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia adalah Amerika Serikat, Korea Selatan, Uni Emirat Arab serta Taiwan,” ujar Franky dalam keterangan yang diterima KONTAN.

Dia mengaku, BKPM akan melakukan komunikasi intensif untuk mengawal minat investor. Sebab, dia melihat sektor perfilman sangat strategis dalam mengembangkan sektor lain. Tersebutlah di antaranya seperti pendidikan, pariwisata, dan industri digital. Untuk itu, katanya, pemerintah serius menggarap sektor perfilman. Pihaknya juga sedang menggenjot nilai investasi sektor perfilman.

”Kami akan terus dorong investasi, dengan harapan mendukung capaian target investasi tahun ini sebesar Rp 594,8 triliun,” terangnya.

Sementara Direktur Pemberdayaan Usaha Pratito Soeharyo mengemukakan bahwa BKPM akan terus berupaya dan berkoordinasi dengan kementerian teknis terkait. Guna mengembangkan investasi sektor perfilman Indonesia. ”Dengan semangat ini, diharapkan akan mengubah penetrasi film Indonesia yang sebelumnya lemah,” imbuh Tito.

Tito menilai, perlu peningkatan koordinasi antara lembaga-lembaga yang mengurusi sektor perfilman sehingga dapat menciptakan suatu iklim investasi yang kondusif serta dapat menangkap fenomena perkembangan sektor perfilman yang ada di tanah air.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×