kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.484   -46,00   -0,26%
  • IDX 6.743   -115,66   -1,69%
  • KOMPAS100 897   -18,84   -2,06%
  • LQ45 659   -10,62   -1,59%
  • ISSI 244   -3,93   -1,58%
  • IDX30 373   -4,41   -1,17%
  • IDXHIDIV20 456   -5,79   -1,25%
  • IDX80 102   -1,80   -1,74%
  • IDXV30 130   -1,82   -1,38%
  • IDXQ30 119   -1,21   -1,01%

Biaya Logistik Nasional Ditargetkan Bisa Menyusut Jadi 8% dari PDB di Tahun 2045


Selasa, 10 Oktober 2023 / 13:20 WIB
Biaya Logistik Nasional Ditargetkan Bisa Menyusut Jadi 8% dari PDB di Tahun 2045
ILUSTRASI. Aktifitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/6/2023). Pemerintah menargetkan biaya logistik nasional akan menyusut hingga menjadi 8% dari produk domestik bruto (PDB) di tahun 2045.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah menargetkan biaya logistik nasional akan menyusut hingga menjadi 8% dari produk domestik bruto (PDB) di tahun 2045.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, target biaya logistik nasional sebesar 8% dari PDB dinilai sangat efisien menuju indonesia emas di 2045 mendatang.

“Targetnya kemarin diskusi dengan pak Menko dan Kepala Bappenas. Diharapkan 2045 logistik cose hanya 8% dari PDB jadi sangat efisien,” tutur Susiwijono dalam agenda Peningkatan Kinerja Logistik melalui Utilisasi Layanan National Logistic Ecosystem (NLE), Selasa (10/10).

Baca Juga: Tantangan Logistik Indonesia, Salah Satunya Infrastruktur yang Belum Merata

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2022 biaya logistik Indonesia masih terbilang mahal, yakni 14,29% dari PDB. Meski begitu masih terbilang baik karena di bawah level 15%.

Susiwijono menyampaikan, untuk mencapai target biaya logistik nasional menjadi 8% dari PDB di 2045 harus melewati berbagai tantangan. Salah satunya terkait utilitas infrastruktur logistik masih mengalami permasalahan utamanya di pelabuhan-pelabuhan kawasan Indonesia Timur.

"Utilisasi infrastruktur logistik kita terutama pelabuhan memang masih terjadi ketimpangan antar daerah di Indonesia khususnya di Indonesia Timur yang masih dibawah 50%," jelasnya.

Selain faktor ketimpangan, faktor muatan juga menjadi tantangan, karena sarana fasilitas pelabuhan yang belum merata, sehingga perbaikan infrastruktur pelabuhan perlu didorong agar seimbang dengan optimalisasi dari demand-nya, yakni volume trafik.

Baca Juga: Memiliki Prospek Menjanjikan, Bisnis Jasa Pelabuhan Semakin Ramai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×